Widget HTML Atas

Baliho, Kok Gambar Saya Tidak Ada!


Dalam sebuah kesempatan Umar bin Khattab pernah menyampaikan pidato: “Jika ada seribu orang yang membela kebenaran, aku berada di antaranya. Jika ada seratus orang yang membela kebenaran, aku berada di antaranya. Jika ada sepuluh orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika hanya ada satu orang yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya.”

Pada sebuah kesempatan lain, ketika tanah Arab dilanda paceklik, Umar mengajak sahabatnya, Aslam untuk mengunjungi beberapa kampung terpencil di sekitar Madinah. Berpakaian seperti umumnya masyarakat biasa, Umar mendekati sebuah tenda lusuh. Suara tangis seorang gadis kecil mengusik perhatiannya.

Setelah mendekat, Khalifah Umar mendapati seorang perempuan tengah duduk di depan perapian. Wanita itu terlihat mengaduk-aduk bejana. Setelah mengucapkan salam dan mendapatkan izin untuk mendekat, Umar duduk mendekat dan bertanya.
" Siapa yang menangis di dalam itu?"
" Anakku," jawab perempuan itu dengan nada ketus.
" Kenapa anak-anakmu menangis? Apakah dia sakit?"
" Tidak, mereka lapar."

Umar dan Aslam tertegun. Mereka terdiam cukup lama, sementara gadis di dalam tenda masih saja menangis dan perempuan itu, terus saja mengaduk bejana.



Umar penasaran dan kembali bertanya. "Apa yang kau masak, Ibu? Mengapa tak kunjung matang?"
"Kau lihatlah sendiri!" jawab perempuan itu singkat.

Umar dan Aslam segera melihat isi bejana tersebut. Mereka menjadi sangat kaget begitu melihat dan mengetahui isi bejana itu.

"Mengapa kau memasak batu?" tanya Umar heran.
"Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum," jawab perempuan itu.

"Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Aku berpuasa dan meminta anakku juga ikut berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan," perempuan itu bercerita lebih panjang.

Umar kembali tertegun. Aslam seperti hendak menyela, tetapi Umar memberi isyarat agar ia diam saja dan membiarkan perempuan itu meneruskan ceritanya.

"Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas menjadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya," lanjut perempuan itu, tanpa mengetahui bahwa yang ada di hadapannya adalah Khalifah Umar bin Khattab.

Umar bangkit dari duduknya dan segera membalikkan badannya, ia menitikkan air mata. Diajaknya Aslam pergi cepat-cepat kembali ke Madinah. Sesampai di Madinah, ia langsung pergi ke gudang Baitul Mal, dan mengambil sekarung gandum.

Tanpa meminta bantuan Aslam dan tak memikirkan lelahnya, Umar mengangkat sendiri karung gandum tersebut di punggungnya. Aslam berusaha mencegahnya dan bermaksud mengambil alih tugas itu.

"Wahai, Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu," kata Aslam.
"Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau bisa saja menggantikan aku memikul karung gandum ini, tetapi apakah kau bisa memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?" kata Umar dengan nada tinggi.

Aslam tertunduk mendengar perkataan Khalifah Umar. Sembari terseok-seok, Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke tenda, tempat tinggal perempuan yang mereka temui tadi.

Sesampainya di sana, Umar dan Aslam masih mendapati perempuan itu duduk di depan perapian, meski suara tangis anaknya tak terdengar lagi.

Umar segera menyerahkan sekarung gandum itu, dan meminta Aslam membantunya menyiapkan makanan. Umar sendiri memasak makanan yang akan disantap oleh perempuan itu dan anak-anaknya.

Melihat mereka bisa makan, hati Umar sedikit terasa tenang.

Setelah selesai, Umar dan Aslam berpamitan. Ia juga meminta perempuan tersebut menemui khalifah keesokan harinya.

"Besok, temuilah khalifah dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu," kata Umar.

Keesokan harinya, pergilah perempuan itu menemui khalifah. Betapa kagetnya perempuan itu melihat khalifah, yang tak lain adalah orang yang telah memasakkan makanan untuknya dan anaknya.

"Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahimu dengan kata-kata dzalim. Aku siap dihukum," kata perempuan itu.

"Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa telah membiarkan seorang ibu dan anaknya kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku akan mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkanlah aku, Ibu," kata Umar.

***

Kisah tersebut sangat akrab di telinga kita, bahkan tak jarang dituturkan ulang kepada banyak orang, sembari mempertegas bahwa itu adalah kisah yang sarat pesan moral. Menjadi dongeng pengantar tidur anak cucu kita, seperti cerita Kancil dan Buaya atau cerita Si Monyet dan Kura-Kura.

Kisah yang tertulis di kitab Mu’jamul Ma’alimul Jughrafiyah karya Atiq bin Ghaits al-Biladi dan beberapa kitab yang lain tersebut, memang sangat masyhur. Namun, sepertinya hanya menjadi risalah yang bagus dibaca.



Di dunia yang entah, orang lebih senang ribut soal gambar dirinya tak muncul di baliho besar, daripada meributkan kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat yang memandatkan kekuasaan dan memberinya amanah. Ketika Umar memastikan dirinya untuk tidak pernah absen membela kebenaran, maka pejabat kita akan memastikan dirinya tak absen dari bagi-bagi proyek.

“Jika ada seratus proyek, maka bagianku berada di antaranya. Jika ada sepuluh proyek, maka aku tetap ada di daftar itu. Dan jika hanya ada satu proyek, maka itu adalah milikku!”


Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo



Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Baliho, Kok Gambar Saya Tidak Ada!"