Widget HTML Atas

Kopi Lampung, Sebuah Identitas


Tujuh tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 September 2012, di Kota Malang digelar sebuah acara talkshow bertema Sejarah Kopi Indonesia, menghadirkan dua maestro kopi Indonesia, Surip Mawardi dan Adi W. Taroepratjeka.

Dalam talkshow tersebut, para peserta yang hadir dikenalkan dengan sejarah awal masuknya kopi ke Indonesia yang diperkirakan dimulai sejak abad ke-16. Kala itu, India mengirim bibit kopi Yemen atau Arabica kepada Gubernur Belanda di Batavia pada tahun 1696. Sayangnya, bibit pertama gagal tumbuh karena musibah banjir di Batavia. Baru pada pengiriman kedua, benih kopi tersebut berhasil tumbuh di Indonesia, hingga tahun 1711 biji-biji kopi tersebut dikirim ke Eropa dan 10 tahun kemudian ekspor kopi meningkat sampai 60 ton per tahun.Alhasil, Indonesia pun menjadi daerah perkebunan Kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia.

Gengsi Kopi Lampung, Gubernur Lampung Arinal

Sejak saat itu, VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725-1780. Kopi Jawa saat itu sangat terkenal di Eropa, sehingga orang-orang Eropa menyebutnya dengan "Secangkir Jawa". Sampai pertengahan abad ke 19 Kopi Jawa menjadi kopi terbaik di dunia.

Dalam Talkshow ‘Sejarah Kopi Indonesia’ tersebut juga mengemuka bahwa sesungguhnya ekspor kopi terbesar Indonesia berasal dari Lampung. (Merdeka.com,29/9/2012). Dan saat ini, Indonesia menempati posisi ke-4 negara penghasil dan pengekspor kopi terbesar di dunia, dengan menempatkan Lampung di urutan 3 besar daerah yang berkontribusi untuk produksi kopi di Indonesia (www.indonesia-investmens.com, 13/10/2017).

Kopi Lampung

Lampung sudah menjadi penghasil kopi terbesar sejak tahun 1840-an atau tepatnya sejak sistem tanam paksa (cultuurstelsel) di era Johannes Van Den Bosch (1780-1844) mulai diberlakukan, rakyat diwajibkan untuk menanam komoditi ekspor milik pemerintah, termasuk kopi pada seperlima luas tanah yang digarap, atau bekerja selama 66 hari di perkebunan-perkebunan milik penjajah. Akibatnya, terjadi kelaparan di tanah Jawa dan Sumatera pada tahun 1840-an. Dan di sisi lain, berkat cultuurstelsel itu, Jawa dan Lampung menjadi pemasok biji kopi terbesar di Eropa yang menguntungkan Belanda.

Dalam buku  Lampoeng Tanah Lan Tijangipoen, (1940: 95), Probonegoro menuliskan bahwa di tahun 1856, orang-orang Lampung telah menanam kopi, tahun 1857 Residen Lampung telah melaporkan 200.000 pohon kopi telah ditanam, dan di tahun 1862 kopi mengalami peningkatan menjadi 4 juta. Namun mengingat orang Lampung itu tidak suka menanam kopi, maka tanamannya (kopi) kemudian banyak yang mati, dan pada akhirnya ( yakni) tahun 1888, dilaporkan bahwa di Lampung sudah tidak ada tanaman kopi, selain yang tumbuh di pagar-pagar atau satu dua pohon yang digunakan untuk konsumsi sendiri.

Namun, pendapat tersebut dibantah oleh Kustiniyati Mochtar dalam buku Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia (1987: 157), bahwa penurunan jumlah tanaman kopi di Lampung bukan karena orang Lampung tidak suka kopi, melainkan kondisi alam Lampung yang saat itu terkena dampak dari letusan Gunung Krakatau tahun 1883, yang menurut Yasa Suparman dalam buku Krakatau 1883(2013: 38) ketebalan abunya mencapai 20cm, partikel abu vulkanik halus mencapai atmosfir dan tertiup ke arah Barat dengan kecepatan sekitar 121 km/jam, sehingga dalam waktu 14 hari mampu mengelilingi daerah yang luas.

Ada juga pendapat yang mengatakan, bahwa kejatuhan kopi di Jawa dan Lampung bermula ketika serangan penyakit kopi melanda pada tahun 1878. Setiap perkebunan di seluruh Nusantara terkena hama penyakit kopi yang disebabkan oleh Hemileia Vasatrix. Penyakit ini membunuh semua tanaman arabika yang tumbuh di dataran rendah. Kopi arabika yang tersisa hanyalah yang tumbuh di dataran tinggi lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

Ala kulli hal, terlepas dari segala perdebatan penurunan tanaman kopi di Lampung pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, semua orang memiliki kesamaan pendapat bahwa Lampung adalah salah satu penyuplai kopi terbesar Indonesia, bahkan hingga sekarang. Maka, tak berlebihan, jika kopi menjadi salah satu bagian dari identitas yang patut dibanggakan.

Kiwari, menjamurnya lapak-lapak kopi di Lampung yang menjual cita rasa khas kopi Lampung, mulai dari yang elit, menyasar pasar kelas menengah ke atas berbentuk sajian kopi-kopi mahal di cafe-cafe dan lobi hotel berbintang, hingga warung dan kedai-kedai pinggir jalan, yang menawarkan orisinalitas rasa, harus dimaknai sebagai upaya merebut kembali identitas, Lampung sebagai penghasil kopi terbesar di negeri ini, sekaligus menegaskan bahwa ngopi (meminum kopi) adalah tradisi ulun Lampung.

Kopi Lampung harus ditegaskan bukan lagi sekadar membuat melek mata, melainkan juga melek identitas. Sebagaimana yang dibayangkan Brian Cowan dalam buku The Social Life of Coffee: The Emergence of the British Coffeehouse, kelahiran kedai-kedai kopi --termasuk maraknya kedai kopi di Lampung-- bukan sebatas untuk menyebarkan gosip tak jelas, menghabiskan waktu dan bercangkir-cangkir kopi untuk membuat mata melek bergadang, melainkan juga sebagai sebuah isyarat orang Lampung melek informasi dan pengetahuan.



Kedai kopi di Lampung adalah ruang yang menjelaskan Lampung, menjelaskan identitas, tradisi dan budayanya. Maraknya kedai kopi menjadi ruang kebanggaan sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia, khas.

Di akhir tulisan ini, mengutip kata-kata Dee Lestari dalam Filosofi Kopi sebagai penutup, --"...dapatkah kita kembali mengerti apa yang ditertawakan bocah kecil, atau yang digejolakkan anak belasan tahun seiring dengan kecepatan zaman yang melesat meninggalkan? Karena kita tumbuh ke atas, tapi masih dalam petak yang sama. Akar kita tumbuh ke dalam dan tak bisa terlalu jauh ke samping. Selalu tercipta kutub-kutub pemahaman yang tak akan bertemu kalau tidak dijembatani. Jembatan yang rendah hati, bukan kesombongan diri."—izinkan saya untuk menyeru, mari meminum kopi yang tumbuh di bumi ruwa jurai ini, sebagai bagian dari pengakuan bahwa kaki kita memang masih berpijak di sini. (*)



Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo


**Tulisan ini sebelumnya saya posting di Kompasiana pada tanggal 23 November 2017

Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Kopi Lampung, Sebuah Identitas"