Widget HTML Atas

Rekonsiliasi, 'Menang Tanpa Ngasorake'


Rekonsialiasi yang dibanguan di atas kemaslahatan bersama tentu tak mensyaratkan apapun, ia lahir dari rahim keluhuruan budi dan ketulusan sebagai putra terbaik bangsa. Rekonsiliasi yang masih gaduh berburu kuasa dan bagi-bagi kursi, adalah rekonsiliasi model anak kecil yang bersedia ‘diam’ dan ‘tak rewel’ jika dijanjikan permen atau mainan!


Pilpres telah usai. Gugatan sengketa perselisihan hasil di Mahkamah Konstitusi (MK) telah diputuskan pemenangnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga telah menetapkan Joko Widodo – Makruf Amin sebagai pasangan calon terpilih, tinggal menunggu pelantikan Oktober mendatang.

Namun, di media sosial bara permusuhan antara pendukung belum sepenuhnya padam. Tuduhan maling, penyelenggara pemilu dan MK curang tak henti-henti diteriakkan, meski tak senyaring awal. Di kubu yang berseberangan, keriangan tak cukup ditandai dengan bersyukur, postingan pecundang, masih ada Pilpres berikutnya, hingga cemoohan untuk tak menggunakan infrastruktur yang dibangun Jokowi semakin terdengar lantang.



Narasi-narasi tersebut seakan-akan menegaskan bahwa kita sedang ‘sakit’. Kekerasan-kekerasan verbal lewat tulisan-tulisan media sosial itu harus diakui adalah gambaran kejiwaan yang tak sepenuhnya merdeka, mentalitas yang terkungkung oleh ambisi dan ego. Apakah karena kita terlalu lama hidup terjajah dan hidup di bawah rezim otoritarian, sehingga warisan mental kolonial itu begitu lekat? Bisa jadi.

Seruan Damai Kontestan

Pascaputusan MK, Prabowo Subianto menyerukan kepada para pendukungnya untuk tetap semangat dan optimis, menjaga kedamaian, antikekerasan dan setia pada konstitusi. “Walaupun kami mengerti bahwa keputusan tersebut sangat mengecewakan para pendukung Prabowo-Sandi, partai Koalisi Indonesia Adil Makmur, dan mengecewakan kami sendiri, serta seluruh tim pemenangan kita, namun kita semua sepakat akan tetap patuh dan mengikuti jalur konstitusi kita, yaitu UUD RI 1945 dan sistem perundang-undangan. Maka dengan ini kami menghormati hasil keputusan Mahkamah Konstitusi,” kata Prabowo sebagaimana dilansir oleh hampir semua media.

Seruan sejuk juga disampaikan oleh Jokowi sesaat usai putusan MK, "Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu kembali, bersama-sama membangun Indonesia, bersama-sama memajukan Indonesia, tanah air Indonesia. Tidak ada lagi 01 dan 02. Yang ada persatuan Indonesia. Walau pilihan politik berbeda, kita harus saling menghargai. Walaupun pilihan politik kita berbeda, kita harus saling menghormati. Walaupun pilihan politik kita berbeda pada saat pilpres, kita harus sampaikan presiden-wakil presiden terpilih adalah presiden bagi seluruh bangsa, bagi seluruh rakyat Indonesia," ," kata Jokowi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (27/6).

Dua kutipan putra terbaik bangsa tersebut, sungguh cukup menyejukkan dan mendamaikan, ditindaklanjuti dengan pertemuan yang menunjukkan harmoni dan kemesraan. Tak memberi alasan lagi, untuk terus merawat permusuhan dan kebencian, terlebih menyebarkannya atas nama orang lain tanpa tanggung jawab. Cukuplah kita mengatasnamakan Tuhan, dengan pekik Allahu Akbar, setiap hendak menuntaskan ambisi dan kebrutalan, meski kita tahu Tuhan yang kita teriakkan namanya itu tak menyukai kekerasan.

Saya teringat Presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson yang harus mati kecewa, karena seruannya dalam pidato yang terkenal dengan Fourteen Points, yang ditekankan pada kalimat “kemerdekan politik, demokrasi dan perdamaian tanpa kemenangan” harus mendarat di ruang kosong.



Robinson Jeffers, penyair Asal Amerika meledeknya dalam sebuah sajak, “Visionless men, blind hearts, blind mouths, live still,” seakan-akan Wilson tak berdaya, kerapkali hati yang buta dan mulut kurap menyesaki ruang publik. “... bekas presiden itu terbaring, dan harapan-harapannya, agar dunia lebih baik dan lebih damai, berantakan!”

Di suatu hari, jelang 2 April 1917, setahun sebelum pidatonya tentang Fourten Points, 8 Januari 18, Wilson memang pernah menyatakan perang kepada Jerman, setelah api dan asap khalayak ramai yang marah dan mendesaknya bertindak, ia pun akhirnya memetik kemenangan manis dan kemasyhuran lewat kekuatan. Namun, Wilson alih-alih menikmati kemenangannya, ia buru-buru menyerukan rekonsiliasi.

Fourteen Points Wilson tidak hanya meletakan dasar perjanjian damai yang ditandatangani Prancis, Inggris, dan Jerman pada akhir Perang Dunia I, tetapi juga menjadi dasar kebijakan luar negeri Amerika pada abad ke 20 dan awal abad 21, sebanyak 42 negara bergabung dalam Liga bangsa-bangsa yang dicetus oleh Wilson tersebut. Ironisnya, Amerika Serikat justru tak pernah menjadi bagian dari keanggotaan organisasi itu, dan Wilson tak berdaya karena ia telah mundur sebagai Presiden Amerika Serikat karena sakit. Kongres AS tak pernah mengesahkan usulan Wilson.

Kita berharap, seruan Prabowo Subianto dan Joko Widodo untuk damai, menganjurkan persatuan dan setia pada konstitusi, tak bernasib sama dengan seruan Wilson di negerinya sendiri, menjadi risalah bagus kala dibaca tapi bangkrut dalam praktiknya.

Kita memiliki budaya dan filosofi bangsa yang lebih luhur soal rekonsiliasi. Filsafat Jawa menang tanpa ngasorake (menang tanpa menghinakan yang kalah), harus tetap kita pegang teguh. Nilai-nilai luhur agama, juga cukup ketat menjadi pedoman bagi semua elemen bangsa yang mendasari kehidupannya pada sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Tak boleh ada pemaksaan kehendak, kepentingan bangsa dan kemaslahatan umat, Persatuan Indonesia harus diletakkan di atas segalanya.

Namun, penting untuk menjadi catatan bahwa rekonsiliasi yang dibanguan di atas kemaslahatan bersama tentu tak mensyaratkan apapun, rekonsiliasi yang lahir dari rahim keluhuruan budi dan ketulusan sebagai putra terbaik bangsa.

Para pemenang tak boleh seperti Tarzan, datang dengan mengangkat dan menginjakkan sebelah kakinya lalu melolong jumawa di atas mereka yang masih kecewa karena kekalahan, karena itu isyarat ketidaktentraman dan justru kekerdilan. Kelompok lain yang kecewa karena kalah, juga tak boleh terus menggonggong mengganggu ketertiban. Semua harus menghadirkan kembali perasaan sebangsa, tak ada yang merasa rumahnya kemalingan, karena Indonesia adalah rumah kita bersama. Menang-kalah dalam sebuah kompetisi adalah hal biasa dan jalannya memang harus seperti itu.

Tabik.

Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo

Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Rekonsiliasi, 'Menang Tanpa Ngasorake'"