Takrif


Takrif, Definisi, Pengertian, Bahasa dan Istilah

Beberapa malam yang lalu, saya berdiskusi lewat WhatsApp dengan adik sepupu yang memilih mengabdikan hidupnya menjadi pengasuh pesantren di kampung. Meski terpaut umur cukup jauh di bawah saya, saya cukup mengagumi ketekunannya belajar. Ia pernah belajar (tafaqquh fiddin) cukup lama dengan beberapa kiai dan ulama, untuk memperdalam pengetahuannya tentang ilmu ushuluddin (pokok-pokok agama). Lepas belajar dari para ulama tersebut, ia kemudian memilih otodidak, nyaris setiap hari ia selalu menyempatkan diri menelaah kitab karya para ulama, klasik maupun kontemperer, menulis, dan tentu saja mengajar dan mengasuh beberapa kelompok pengajian di pulau.

Malam itu, diawali obrolan tentang buku Ilmu Tafsir karya terbarunya yang diterbitkan Sai Wawai Publishing, kami lantas asyik membahas beberapa buku tafsir, termasuk beberapa aliran kalam yang turut mempengaruhi perkembangan ilmu tafsir hingga sekarang.

Obrolan menjadi ‘cukup’ serius, saat saya mengenalkan The Message of the Quran karya Muhammad Asad. Rasa penasaran adik saya terhadap tafsir ini, membuatnya bertanya tentang banyak hal, mulai latar belakang penulis hingga metodelogi tafsir yang digunakan. Sesungguhnya, saya sendiri belum sempat menelaah dan membaca tafsir itu secara serius, alih-alih tamat. Saya sesekali membuka The Message of the Quran ketika menginginkan penjelasan ‘lain’, tentang sebuah ayat. Salah satunya ketika Muhammad Asad memberikan pengertian tentang ghaib, muttaqien atau taqwa.

Singkatnya, dari banyak tema yang kami bicarakan, pembicaraan kemudian mengerucut soal pengertian. Menurutnya, kesalahan menggunakan ‘pengertian’ baik bahasa (etimologi) dan istilah (terminologi) akan menghasilkan kesimpulan yang salah. Tentu saya sepakat, karena sejak awal saya juga sering menemukan ada banyak orang yang keliru ‘mengerti’ tentang sesuatu, karena keliru memahami entitas kata, term atau pernyataan. Terlalu sering menilai sesuatu berdasarkan obyeknya, bukan berdasarkan entitas sesuatu itu. Semisal menilai ‘manis’ berdasarkan obyek gula, sehingga seakan-akan manis itu gula, gula itu adalah manis. Pada saat mendapati pernyataan, ‘manis’ yang menempel di obyek lain, selalu ada sanggahan, ‘emang gula!’



Mengenal Takrif

Takrif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai pemberitahuan, pernyataan, penentuan dan definisi atau batasan. Takrif asalnya dari bahasa Arab, seakar dengan kata-kata yang telah populer seperti ma’ruf, ta’aruf, ‘arif. Masing-masing kata tersebut berasal dari kata ‘arafa meski kemudian maknanya mengalami penyesuaian berdasarkan fungsinya dalam satu kalimat. Ma’ruf sering diterjemahkan sebagai kebaikan; amar ma’ruf (mengajak kepada kebaikan); ta’aruf (kenalan, saling kenal atau mengenal); dan arif sering diterjemahkan sebagai bijak. Bahkan, saat ditelusuri dalam KBBI, kata-kata tersebut juga diartikan tak jauh berbeda dari apa yang lazim dipahami oleh khalayak.

Namun, di sini saya tentu tidak akan membahas pergeseran makna dari kata-kata tersebut dari asalnya. Sekilas (tidak mungkin detail), saya hanya akan menarasikan soal takrif yang pernah saya pelajari dalam Ilmu Manthiq, hal ini berhubungan atas kritik adik sepupu saya terhadap tulisan Kufur di blog ini.

Awalnya, saya ingin dan memintanya mengomentari semua tulisan yang ada di blog omah1001.com, karena menurut pengakuannya, ia tak jarang mengikuti dan membaca tulisan-tulisan yang saya posting. Maka malam itu, jadilah kita membahas tentang pengertian kufur dan kafir. 

Berdasarkan pendapatnya, tulisan itu dari sisi pengertian menurut bahasa (terminologi) ansich, tidak bermasalah. Tetapi, pengertian yang hanya didasarkan pada bahasa, tentu tidak akan bisa menjelaskan secara khusus tentang sesuatu. Ia mencontohkan, salat yang memiliki pengertian menurut bahasa: doa atau dzikir.

Oleh karena itu, menurutnya tidak bisa lantaran hanya melakukan satu kesalahan (dosa), seperti tidak bersyukur bisa membuat orang menjadi murtad (kafir), atau menggugurkan keislamannya. Maka ada istilah lain, yang bisa melabeli pelaku kesalahan (dosa) tersebut, seperti fasik, munafik atau istilah lain yang dikenal dalam agama.

Pertanyaan yang muncul kemudian dan cukup mengganggu adalah, apakah menjadi muslim  sekaligus bisa menjadi munafiq, fasiq atau istilah lain yang menunjuk pada laku pembangkangan terhadap kebenaran, seperti bermegah-megah, merusak lingkungan, menelantarkan anak yatim dan tidak memberi makan fakir miskin? Jika harus dicap murtad atau kafir, lantas bagaimana ketika suatu saat ia menginsyafi kekeliruan dan kesalahannya, bukankah Tuhan selalu menyediakan ruang pengampunan? Apakah orang bisa keluar-masuk, menjadi muslim dan kafir sesuka hati, mentang-mentang ada pengampunan?

Biarlah semua pertanyaan itu menguap, dan masing-masing kita menemukan jawabannya sendiri. Sekali lagi, tulisan ini hanya berkepentingan menjelaskan takrif (itu pun sebatas pengantar), untuk mengawali dialektika yang lebih serius.

***  



Takrif bagi yang akrab dengan kitab-kitab berbahasa Arab memang selalu berhubungan dengan kata lughatan (menurut bahasa/etimologi) dan ishtilahan (istilah, terminologi). Dua kata, lughatan dan isthilahan dianggap cukup mewakili bagian-bagian (takrif had [tam dan naqish], takrif rasm [tam dan naqish], takrif lafadz dan takrif mitsal) dan syarat-syarat takrif (muththarid mun’akis, an yakuna audlah min al-mu’raf, an yakuna khaliyan min al-dawar, dan an yakuna khaliyan min al-majaz wa al-musytarakat). 

Secara sederhana takrif bisa dipahami sebagai al qaul al syarih (ungkapan yang menjelaskan). Al Jurzani mengatakan bahwa takrif adalah penjelasan tentang penuturan sesuatu yang dengan mengatahuinya akan melahirkan suatu pengetahuan yang baru (tastalzimu makrifatuhu makrifata syai-in akharin). Atau dikenal juga pengertian takrif sebagai qaulun daalun ‘ala maa hiyati al syai (kalimat yang menunjukkan hakikat sesuatu).

Merujuk pada pengertian muasal takrif secara singkat di atas, dapat dipahami bahwa sesungguhnya takrif tak berbeda dari definisi yang dari bahasa Latin, definitio. Definisi sering diartikan sebagai pembatasan (Maran, 2007: 35). Maksudnya, menentukan batas-batas pengertian tertentu sehingga jelas tujuan yang diinginkan, tidak kabur dan tidak dicampuradukkan dengan pengertian-pengertian lain.

Menurut W. Poespoprodjo dan T. Gilarso (1999: 49) dalam buku Logika Ilmu Menalar bahwa sebuah definisi setidaknya harus memenuhi aturan-aturan: (1) Dapat dibolak-balik dengan hal yang didefinisikan; (2) Hal yang didefinisikan tidak boleh masuk ke dalam definisi; (3) Definisi harus sungguh-sungguh menjelaskan; (4) Definisi harus tepat perumusannya, tidak boleh lebih luas atau lebih sempit dari yang harus didefinisikan; dan (5) Definisi tidak boleh memuat metafora.

Selain pengertian, penting pula memhami kata dan term, sehingga kita dengan jelas memahami tentang sesuatu sehingga tidak terjadi mispersepi dan miskomunikasi. Sesungguhnya, antara pemikiran dan bahasa memiliki hubungan timbal balik. Berpikir dengan lurus (jelas dan tepat) menuntut pemakaian kata-kata yang tepat.

Jadi, sangat jelas betapa penting memahami takrif dan definisi untuk menjadi paham. Jangan hanya lantaran kita mengetahui, putih dari warna tulang, menjadikan kita menolak bahwa ada putih 'lain' yang menempel di banyak obyek lainnya. Maka menjadi penting untuk paham dan mengerti, pengertian (takrif/definisi) tentang putih secara tepat dan benar.

Tabik.

Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post