Widget HTML Atas

Term


Term, Logika Dasar

Setiap kali berbincang, saya selalu mengajak (terutama diri sendiri) untuk terus menerus belajar logika. Memahami secara detail makna setiap kata, term, konsep, proposisi, silogisme dan semua hal terkait dengan logika dasar, termasuk juga dalam membuat analogi dan permisalan. Kesalahan menyusun kata karena kesalahan 'logika memahami' akan berdampak terhadap konklusi.

Logika tak pernah bisa dilepaskan dari bahasa. Keduanya adalah media/sarana manusia untuk saling terhubung, berinteraksi dan menyampaikan setiap kehendak yang dibangun lewat akal budi. 

Banyak kejadian, orang yang salah memahami entitas kata, salah pula mengekspresikannya. Parahnya, jika kesalahan terjadi, tidak hanya pada penyampai pesan, tetapi juga penerima pesan, karena sama-sama tak memahami ‘kata’ atau pernyataan, maka terjadilah kekeliruan bersama yang dianggap sebagai kebenaran.

Pada bagian ini, saya mencoba untuk menuliskan tentang 'term' yang dikenal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai: istilah, kata atau frasa yang menjadi subyek atau predikat dari sebuah proposisi. Dalam ilmu logika term dimaknai sebagai ungkapan lahiriah atau ekspresi verbal, yang terdiri dari satu kata atau lebih (tergantung bentuk termnya, majemuk atau tunggal).  

Term secara umum dikenali sebagai kata atau kelompok kata, tapi tidak semua kata atau kumpulan kata adalah term, meskipun setiap term itu adalah kata atau kumpulan kata. Alasannya, tidak semua kata pada dirinya sendiri merupakan ekspresi verbal dari pengertian (sinkategorimatis) dan bahwa tidak semua kata pada dirinya sendiri berfungsi sebagai subyek atau predikat dalam suatu proposisi. Misal: “semua”, “karena”, “dengan cepat” atau kata keterangan, kata depan, kata penghubung, dan kata sandang.

Kita bisa membayangkan pertengkaran antara Perminedes dan Heraklitus hanya karena soal sepele, sudut pandang materi dan immateri, ide dan realitas. Hal sama, yang seringkali terjadi di sekitar kita. Ada banyak perdebatan yang gagal mencapai titik temu, karena perbedaan sudut pandang tentang ‘satu hal’. Semisal, kita akan sibuk berdebat soal putih, jika yang satu merujuk pada obyek (materi/realitas) yang ia ketahui, sedangkan yang lain menarasikan ‘ide’ tentang pada obyek lainnya. Maka, untuk menengahi itu, logika menjelaskannya dalam jenis term kongkrit dan abstrak.



Salah satu pemikiran Plato yang terkenal ialah pandangannya mengenai realitas. Menurutnya realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia: dunia yang terbuka bagi rasio dan dunia yang hanya terbuka bagi pancaindra. Dunia pertama terdiri atas idea-idea dan dunia berikutnya adalah dunia jasmani. Pemikiran Plato tersebutlah berhasil mendamaikan pertentangan antara pemikiran Heraklitus dan Parmenides. 

Heraklitus bertikai dengan Permenides karena sama-sama bertahan terhadap pendapat masing-masing. Menurut Heraklitus segala sesuatu selalu berubah, hal ini dapat dibenarkan menurut Plato, tapi hanya bagi dunia jasmani (pancaindra), sementara menurut Permenides segala sesuatu sama sekali sempurna dan tidak dapat berubah, ini juga dapat dibenarkan menurut Plato, tapi hanya berlaku pada dunia idea saja. Barangkali contoh sederhana di sekitar kita tentang warna putih, apakah ia berubah atau tetap?  Putih bisa saja berubah jika yang kita rujuk putih yang mewujud dalam alam materi, seperti putih tembok, putih kulit, puting tulang, putih kertas, tetapi sesungguhnya putih tetaplah putih (tidak berubah), jika yang kita maksudakan putih di alam idea.

Jenis term sesungguhnya teramat banyak, dalam cakupannya dikenal jenis term singular, partikular dan universal. Term singular adalah term yang menunjuk pada satu benda/hal/realitas tertentu. Term partikular adalah term yang menunjuk pada sebagian dari seluruh luasnya, minimal satu, tapi tidak tertentu. Sedangkan term universal merupakan term yang menunjuk pada seluruh luasnya tanpa kecuali.

Ditinjau dari sisi sifatnya, term dibagi dalam bentuk distributif atau kolektif. Term distributif adalah term yang pengertiannya dikenakan kepada anggota/satuan/individu, bukan kelompok. Sedangkan term kolektif adalah term yang pengertiannya dikenakan pada kelompok, bukan pada anggota atau individu-individu di dalamnya.

Term distributif bisa berbentuk term singular, partikular atau universal. Term distributif singular tampak ketika term singular menunjuk pada satu tertentu. Sedangkan term distributif partikular atau universal bergantung pada konteks, jika berdiri sendiri tanpa kata-kata yang menunjukkan kuantitas. Misal: manusia perlu oksigen, maka term universal itu (manusia) bersifat distributif, karena semua manusia tanpa terkecuali memang memerlukan oksigen.

Term kolektif juga bisa berbentuk term singular, partikular atau pun universal. Term kolektif disebut singular jika menunjukkan pada satu kelompok tertentu. Contoh, keluarga presiden Soekarno. Term kolektif disebut partikular jika tidak ada penunjuk kuantitas dan satu kelompok tertentu di dalamnya, misalnya: para politikus. Term kolektif disebut universal jika berdiri sendiri tanpa kuantitas, contohnya: keluarga adalah sekolah pertama anak.

Ditilik dari penggunaan artinyanya, term ada yang berbentuk univok, ekuivok, maupun analog. Term univok adalah term untuk dua atau lebih realitas dalam arti sama. Misalnya kata “buah” yang disematkan pada mangga dan jambu, memiliki pengertian sama. Adapun term ekuivok menunjuk pada dua realitas atau lebih dalam arti yang berbeda. Contohnya: kata “bisa” dapat berarti racun pada ular, dapat pula berarti “mampu atau dapat”.

Term disebut analog jika menunjuk pada dua realitas atau lebih dalam arti sama sekaligus berbeda. Penunjukkan atas realitas-realitas itu diselenggarakan untuk membandingkan atau mengkiaskan. Umpamanya:  Getaran alat musik yang dimainkannya, mencerminkan getaran hatinya. Pada titik tertentu ada kesamaan antara getaran di alat musik dan di dalam hati. Tapi tentu saja kedua hal itu berbeda, karena getaran hati bersifat kiasan, sedangkan getaran alat musik memang sedemikian adanya.  

Dari fungsinya, term terbagi dua, yaitu denotasi dan konotasi. Denotasi adalah nama atau tanda dari suatu benda atau sejumlah benda yang ditunjukkan oleh term itu. Konotasi adalah kualitas atau karakteristik dari suatu benda atau sejumlah benda yang ditunjukan oleh term sehingga term itu tidak dapat lagi dipergunakan untuk benda-benda lain.



Antara denotasi dan konotasi terdapat hubungan timbale balik yang erat, artinya jika yang satu bertambah maka yang lainnya akan berkurang, dan sebaliknya. Dalam hal ini terdapat berbagai kemungkinan: (1) Jika denotasi bertambah, konotasi berkurang; (2) Jika denotasi berkurang, konotasi bertambah; (3) Jika konotasi bertambah, denotasi berkurang; dan (4) Jika konotasi berkurang, denotasi bertambah. Contoh: Denotasi dari term “manusia” meliputi semua manusia dan hanya manusia. Jika kita perluas konotasinya dengan menambahkan atribut “beradab”, manusia beradab, maka denotasinya akan berkurang karena term “manusia” itu kemudian hanya akan dapat dipergunakan untuk menunjukan “manusia yang beradab” saja. (Dirangkum dari berbaga sumber).

Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo


Daftar Bacaan:

Murtadha Muthahhari, Pengantar Menuju Logika, Bangil: Yayasan Pesantren Islam, 1994.
Partap Sing Mehra dan Jazir Burhan, Pengantar Logika Dasar, Bandung: Bina Cipta, 1964
Poespoprodjo dan Gilarso, Logika Scientifika, Bandung: Pustaka Grafika, 2011

Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Term"