Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2019

Jalan Petunjuk itu Bernama Istikharah

Jalan gang depan rumah tampak sepi. Barangkali, orang-orang pergi ke masjid. Sebentar lagi lebaran. Biasanya masjid kembali penuh, setelah ditinggal sepi jamaahnya di pertengahan Ramadan. Mereka sibuk mencari rezeki untuk mempersiapkan kebutuhan lebaran, beli kue dan baju baru untuk anak-anak. Perutku sedikit mules, sehingga aku berangkat belakangan ke masjid. Gawaiku berdering, sesaat setelah aku keluar dari kamar mandi. ‘Ah, sudah terlambat, ditambah ada telepon,’ rutukku dalam hati. “ Halo, Bang. Saya mau ke masjid, bagaimana kalo nelponnya setelah dari masjid saja.” Aku mengangkat telepon dan berusaha memutus obrolan tersebut. Sepakat, suara di seberang juga menginformasikan, bahwa ia juga sebenarnya sedang bersiap pergi ke masjid. Pulang dari masjid, sahabatku itu pun memenuhi janjinya. Menelepon. Obrolan panjang lewat sambungan telepon tersebut, singkatnya memintaku bergabung kembali dalam grup yang sebenarnya sudah sejak lama aku bersamai, hanya kare

Kota, Ilmuwan dan Peradaban Buku

Sebenarnya saya memiliki problem ketika hendak merujuk istilah ilmuwan, lebih pas dilekatkan kepada kelompok yang mana, kepada petani pasti memicu protes, kepada buruh pasar, pasti ditolak, kepada anak-anak jalanan kreatif bisa memunculkan perdebatan. Barangkali yang paling minim kotraversinya, jika istilah ilmuwan ini dilekatkan kepada masyarakat akademis, mahasiswa dan dosen yang memiliki sederet gelar. Dalam logika awam seperti saya, memang masyarakat akademislah sebagai kelompok yang paling tepat untuk menyandang predikat ilmuwan, meskipun tentu saja tidak ada jaminan dosen dengan gelar berderet atau mahasiswa yang selalu bangga mengenakan jaket almamater itu adalah ilmuwan, sebagaimana disindir oleh Gloria Steinem, bahwa sebuah kesalahan fatal jika menganggap pendidikan itu adalah sekolah, karena banyak orang sekolah justeru tidak menunjukkan sikap terdidik. Kok bisa? Ya, iyalah. Bayangkan mana mungkin ada dosen dan mahasiswa yang tidak suka membaca dan menulis den

Kota Kita, Kota Wisata

Seringkali pemilik kebijakan dipusingkan dengan urusan mengundang sebanyak-banyaknya orang untuk hadir atau berkunjung ke daerahnya, sehingga kebijakan pembangunan tidak lagi didasarkan kebutuhan warga atau penghuni daerah, karena yang terpenting adalah menghadirkan keramaian, menarik minat sebanyak-banyaknya ‘orang luar’. Logika pembenarnya, semakin banyak orang datang akan semakin banyak uang berputar, ekonomi bergerak! Jika, soal mendatangkan banyak orang ke suatu daerah, maka barangkali tak ada cara yang lebih efektif selain menawarkan wisata seks. Meskipun, tentu saja banyak orang yang akan menolak, karena di samping ide tersebut tidak populis dan bertentangan nilai, moral dan etika ketimuran, masyarakat kita juga termasuk orang yang sangat memegang teguh ajaran agama, terutama soal simbol dan hal-hal yang terkait dengan apa yang terlihat. Buktinya, di ruang-ruang privat masih banyak konsumen dan pecandu situs-situs porno serta para pemburu berita seputar selangkang

Tentang Kehidupan dan Kopi

Kopi dan buku, adalah dua hal yang nyaris tak pernah bisa dipisahkan dalam aktivitas kehidupanku. Tidur lewat tengah malam seringkali ditutup dengan tegukan terakhir kopi dingin yang nyaris mengampas. B angun tidur kopi juga menjadi rutinitas pembuka dari semua kegiatan harian, membaca, menulis, bersenda gurau bersama keluarga, s sisanya adalah keluyuran atau berkumpul bersama teman-teman. Aktivitas yang terus berulang setiap hari, (mungkin) monoton dan menjenuhkan. Aktifitas yang mengulang. Dan dialami oleh hampir seluruh manusia yang hidup di muka bumi ini, meski dengan laku dan lakon berbeda-beda. Seoarang pegawai akan menjalani rutinitas hariannya dimulai dengan bangun pagi, pergi ke kantor pulang menjelang sore hari, walikota, pedagang, guru, dosen atau profesi apa saja, akan menjalani aktivitas yang mengulang setiap hari, hingga ia menua, sakit-sakitan dan akhirnya hanya berkutat d i sekitar tempat tidur dan kamar mandi, kemudian mati. Menjadi tua memang sebuah k

Merdeka

Kemerdekaan/mengajarkan aku berbahasa/membangun kata-kata/dan mengucapkan kepentingan// Kemerdekaan/mengajarkan aku menuntut/dan menulis surat selebaran Kemerdekaanlah/yang membongkar kuburan ketakutan/dan menunjukkan jalan// Kemerdekaan/adalah gerakan/yang tak terpatahkan// Kemerdekaan//selalu di garis depan ( Puisi “Kemerdekaan” Wiji Tukul, 27/12/1988) Kampung-kampung dihias. Setiap kali memasuki bulan Agustus, hampir semua warga kompak memasang umbul-umbul, penjor dan bendera merah putih di depan rumahnya. Beragam gelaran lomba dan permainan tradisional dihelat, dari kampung-kampung terpencil hingga gang-gang sempit perkotaan. Setelah mengalami   ketertindasan, hidup dalam kondisi terjajah lalu merdeka, bangsa ini memang patut dan layak untuk menghibur diri dan berbahagia dengan berbagai cara semampu mereka. Dalam keterbatasan, kekurangan bahkan ketidakberadaan, apapun yang bisa mendatangkan senyum dan gelak tawa. Walau berarti harus menertawakan orang l

Berkurban

Semangat berkurban adalah semangat mewarisi keteladanan Ibrahim yang rela mengorbankan salah satu putranya. Simbolisasi kurban yang dipraktikkan oleh Ibrahim bertujuan memangkas sikap cinta yang berlebihan atas kehidupan dunia, menyembelih rasa kepemilikan absolut atas materi, yang kebetulan diwakili oleh putranya. Ala kulli ha l, berkurban menjadi refleksi kemanusiaan yang berhasil meyembelih keserakahan, kepemilikan dan keakuan. Lantas, sudahkah praktik simbol berkurban yang dilaksanakan oleh hampir seluruh umat Islam mewakili nilai-nilai pengorbanan yang dicontohkan Ibrahim? Yakni menyingkirkan ketamakan, keserakahan, keakuan dan menisbikan kepemilikan, bahwa yang ada dan dimiliki sebenarnya adalah titipan Tuhan dan terdapat pula hak orang lain, sehingga tak perlu berat hati melepas dan mengorbankannya, serupa Ibrahim yang mengorbankan putranya? Berkurban asasinya adalah mengembalikan manusia pada autentisitasnya, fitrah kemanusiaannya. Menurut Muhammad Asad (2004), fi