Widget HTML Atas

Berkurban


Semangat berkurban adalah semangat mewarisi keteladanan Ibrahim yang rela mengorbankan salah satu putranya. Simbolisasi kurban yang dipraktikkan oleh Ibrahim bertujuan memangkas sikap cinta yang berlebihan atas kehidupan dunia, menyembelih rasa kepemilikan absolut atas materi, yang kebetulan diwakili oleh putranya. Ala kulli hal, berkurban menjadi refleksi kemanusiaan yang berhasil meyembelih keserakahan, kepemilikan dan keakuan.

Lantas, sudahkah praktik simbol berkurban yang dilaksanakan oleh hampir seluruh umat Islam mewakili nilai-nilai pengorbanan yang dicontohkan Ibrahim? Yakni menyingkirkan ketamakan, keserakahan, keakuan dan menisbikan kepemilikan, bahwa yang ada dan dimiliki sebenarnya adalah titipan Tuhan dan terdapat pula hak orang lain, sehingga tak perlu berat hati melepas dan mengorbankannya, serupa Ibrahim yang mengorbankan putranya?

Berkurban asasinya adalah mengembalikan manusia pada autentisitasnya, fitrah kemanusiaannya. Menurut Muhammad Asad (2004), fitrah atau kejadian asal pada diri manusia itulah yang memberinya kemampuan bawaan dari lahir untuk mengetahui yang benar dan salah, sejati dan palsu, dan dengan begitu manusia akan merasakan kehadiran Tuhan dan keesaan-Nya.

Dalam perspektif ajaran Islam, esensi ibadah kurban adalah refleksi keimanan dan ketaatan seorang hamba terhadap Tuhannya, yang diharapkan juga punya implikasi terhadap kepeduliaan sosial dan pemberdayaan sosial.

Sejarah berkurban sebenarnya bukanlah sejarah baru, bahkan dalam keyakinan agama-agama terdahulu ditemukan banyak cerita yang mengorbankan manusia sebagai persembahan (kurban) kepada tuhan atau dewa-dewa. Di Mesir, misalnya, gadis tercantik dipersembahkan kepada Dewi Sungai Nil. Sementara di Kanaan, Irak, bayi-bayi dipersembahkan kepada Dewa Baal. Suku Aztec di Meksiko lain lagi, mereka menyerahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari. Di Eropa Utara, orang-orang Viking yang tadinya mendiami Skandinavia mengurbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada Dewa Perang “Odin”(M. Quraish Shihab, 2008: 338).

Ali Syariati (2008) memandang kurban sebagai kesempurnaan manusia dan keterbebasannya dari sifat suka mementingkan diri sendiri dan hasrat- hasrat hewani. Karena memang dalam diri manusia ada yang dinamakan dengan nafs bahi miyyah (nafsu hewani) yang mendorong kepada pemenuhan syahwat kebinatangan, seperti sifat rakus, tidak pernah puas, ingin menang sendiri dan sebagainya. Pandangan Ali Syari’ati memperlihatkan perhatiannya kepada dimensi moral dan politik yang juga harus terus diperjuangkan bagi terwujudnya keadilan sosial. Menyembelih hewan adalah menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia.

Di bagian lain, Ali Syariati juga menegaskan bahwa, pesan penting Tuhan di dalam ibadah kurban adalah menegakkan martabat kemanusiaan itu sendiri, bahwa Tuhan Ibrahim bukan Tuhan yang haus akan darah manusia, sehingga tradisi masyarakat yang mengorbankan diri manusia untuk dipersembahkan dan diabdikan kepada Tuhan diralat dengan cara mengorbankan segala sikap tamak dan serakah atas materi dunia. Pesan ini juga dapat dibaca sebagai pesan untuk memutus tradisi membunuh manusia demi “kepentingan Tuhan”. Termasuk membunuh segala hal yang menyebabkan nilai-nilai kemanusiaan juga ikut terbunuh.

Namun, apa yang Anda bayangkan, ketika melihat perlakuan manusia terhadap binatang kurban, mulai sebelum hingga selesai dipotong? Melihat fenomena praktik berkurban yang semestinya menyembelih keakuaan, tetapi justeru yang terjadi sebaliknya menahbiskan keakuan.

Belum lagi perlakuan tak cukup beradab manusia terhadap binatang kurban? Menyebarkan sadisme di media sosial, menggorok binatang kurban yang direkam dalam bentuk gambar hidup atau gambar mati, masihkah mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang welas asih? Termasuk juga melakukan evaluasi atas ibadah kurban yang kita sebut sebagai “pengorbanan” untuk kepentingan agama dan Tuhan itu, apakah berdampak pada terkikisnya keserakahan, ketamakan, kekikiran dan kepelitan dalam diri kita yang berkurban

Jika iya? Semestinya ibadah kurban tidak kehilangan elan vitalnya, yang secara fungsional tak bisa lepas dari universalitas tugas nubuwat, membawa misi rahmatan lil 'alamin. Semoga saja maraknya ritual kurban kita tahun ini berbanding lurus dengan meningkatnya kualitas keadaban publik kita, dan mampu menghadirkan kesejahteraan sosial, sehingga tidak hanya dikenang sebagai festivalisasi spritual, yang hanya diramaikan dengan hidangan sate, gulai dan rendang.

Semoga!



Rahmatul Ummah (Warga Yosomulyo)

Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Berkurban"