Dialog Imajiner Wiji Thukul dan Pairin



Di suatu sore, di Malioboro beberapa orang terlihat duduk di bangku-bangku yang tersedia sepanjang pinggir jalan Malioboro sembari bercanda. Sementara persis di dekat lampu lalu lintas, para pengamen jalanan sibuk dengan aktivitasnya, dari seberang jalan terlihat seorang laki-laki berusia senja sedang menyeberang, tergopoh-gopoh setengah berlari.

“Mas, maaf, numpang bertanya. Apakah perjalanan ke Shoping Center, masih jauh dari sini?” tanya Lelaki tersebut.

Mau ke Shoping Center, Pak? Bapak nanti naik bus Trans Jogja rute 1A, 2A atau 3A dari halte di sana, nanti Bapak turun di Halte Senopati 2, ongkosnya sekitar 3 ribu rupiah,” ujar salah seorang dari Pengamen jalanan tersebut menjelaskan, sembari menunjuk sebuah halte.

Namun, sebelum laki-laki tua tersebut beranjak menuju halte, seorang laki-laki kurus dari rombongan para pengamen tersebut, yang sedari tadi menapakuri sebuah kertas lusuh di tangannya berdiri dan menawarkan jasa untuk mengantar.


“Maaf, Pak. Saya Wiji Thukul. Jika tak keberatan saya bersedia menjadi penunjuk jalan, mengantar Bapak,” seru lelaki ceking itu.

“Ooo... tentu, dengan senang hati. Saya Pairin,” lelaki tua itu memperkenalkan diri.

Akhirnya, dua orang lelaki yang baru kenal tersebut berjalan beriringan menuju halte Malioboro.

“Rencana mau belanja buku ya, Pak? Biasanya orang yang datang ke Jogja dan pergi ke Shoping Center, rata-rata ingin berbelanja buku, sebab Shoping Center memang dikenal sebagai tempat wisata buku,” tanya Wiji Thukul sekaligus menjelaskan.

“Bukan, bukan untuk beli buku. Saya hanya ingin lihat-lihat, konon menurut kabar yang saya terima, di Shoping Center terdapat 124 kios buku dan tempatnya menyatu dengan kawasan Taman Pintar. Nah, saya tertarik dengan cerita itu, saya ingin belajar dan mencari tahu bagaimana caranya kios-kios buku tersebut tetap bertahan dan tidak merugi.  Sehingga bisa jadi, nanti saya tidak hanya membeli buku di sini, tetapi juga berharap bisa memindahkan Shoping Center ini ke kota saya!” Lelaki tua itu tampak serius.

“Wow... Bapak ini pasti seorang pengusaha hebat yang kaya raya dan memiliki visi yang bagus, mengerti betul bahwa kemajuan kota tidak pernah lepas dari peradaban buku!” Wiji Thukul terkagum-kagum.

Lelaki tua itu diam, Wiji Thukul pun diam. Suasa hening. Tak lama bus Trans Jogja yang mereka tunggu tiba. Mereka pun segera naik.



“Oo, ya Pak. Sepertinya saya tak asing dengan nama bapak. Beberapa kali saya pernah baca di berita-berita online?” Tanya Wiji Thukul sembari memasukkan nama Pairin di aplikasi mesin pencari, di gawai miliknya.

Setelah Wiji Thukul menemukan nama Pairin lengkap dengan beberapa foto, ia segera menunjukkannya ke lelaki tua di sampingnya tersebut.

“Itu bukan aku! Itu Wali Kota Metro” sergah Pairin.

“Tapi kok bisa mirip ya, Pak?”

“Jika aku adalah Pairin yang dimaksud, tak mungkin aku berjalan sendiri tanpa pengawalan. Paling tidak akan ada satu dua orang bersamaku untuk menemani. Dan, tak mungkin juga, seorang walikota naik angkutan umum seperti bus Trans Joga ini kan?” Pairin membantah.

“Iya juga, Pak! Bapak, benar. Maaf aku sudah menduga-duga. Padahal banyak hal-hal yang mirip di dunia ini, seolah-olah sama padahal beda!”

Dua lelaki itu akhirnya kembali terlibat dalam percakapan yang akrab. Mereka membicarakan banyak hal, tentang rencana dan mimpi-mimpi besar Pairin mendirikan sebuah kawasan pertokoan yang berisi kios-kios buku, di tengah-tengah kawasan tersebut di bangun sebuah ruang terbuka hijau atau taman baca yang asri.

Pairin bercerita, bahwa di kotanya, pemerintah sedang semangat merobohkan bangunan-bangunan tua, melakukan peremajaan bangunan, menata kota sehinggga tampak lebih estetik dan modern. Ia berharap, di antara beberapa bangunan yang dirobohkan itu akan muncul bangunan baru, berupa beberapa toko buku.

Tanpa terasa, bus Trans Jogja yang mengantar mereka telah tiba di halte Senopati 2. Mereka turun.

“Terimakasih banyak atas bantuannya, mungkin saya akan menghabiskan waktu hingga malam di sini. Jika Mas Wiji Thukul masih ada kegiatan, silahkan dilanjutkan. Sekali lagi, saya sampaikan terima kasih atas kebaikannya.” Kata Pairin.

“Sama-sama Pak, saya memang harus kembali ke tempat kawan-kawan saya tadi. Oh, ya Pak. Jika boleh tahu, dari manakah Bapak berasal,” Balas Wiji Thukul.

“Saya dari Boyolali.” Jawab Pairin

Sembari mengamati wajah Wiji Thukul beberapa detik, Pairin melanjutkan “ Mas Wiji Thukul, jangan tersinggung ya, jika tak keberatan, sedia kiranya menjawab pertanyaan saya?”

“Tentu saja tidak, Pak.”

“Mas Wiji Thukul, bukankah orang yang dinyatakan hilang atau tepatnya dihilangkan (diculik) sejak  Juli 1998, 21 tahun yang lalu dan sampai sekarang tidak pernah kembali? Kok?” tanya Pairin, dahinya berkerut seakan-akan baru sadar bahwa orang yang ada di depannya adalah Wiji Thukul yang

Santai sambil tersenyum Wiji Thukul menjawab

“ Tidak, Pak. Wiji Thukul tak pernah hilang, saya ada dan tinggal di kepala-kepala pemimpin yang dzalim dan lalim!”

Pairin terdiam. Hening.

Wiji Thukul menyerahkan kertas lusuh yang dari tadi digenggamnya. Pairin membaca pelan, sebuah puisi berjudul:
Peringatan
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam
kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata:
lawan!



Senyap.

Wiji Thukul berlalu, sembari mengucap kata “Boyolali”. Sebuah nama kabupaten di Jawa Tengah yang menurut Babad Pengging Serat Mataram, bermakna "sudah lupakah orang ini", kalimat yang bermulari ucapan Ki Ageng Pandan Arang, "baya wis lali". 

(Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo)

 -------
*Tulisan ini pernah diterbitkan di pojoksamber.com pada  21 Oktober 2016.



0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post