Widget HTML Atas

Kota, Ilmuwan dan Peradaban Buku



Sebenarnya saya memiliki problem ketika hendak merujuk istilah ilmuwan, lebih pas dilekatkan kepada kelompok yang mana, kepada petani pasti memicu protes, kepada buruh pasar, pasti ditolak, kepada anak-anak jalanan kreatif bisa memunculkan perdebatan. Barangkali yang paling minim kotraversinya, jika istilah ilmuwan ini dilekatkan kepada masyarakat akademis, mahasiswa dan dosen yang memiliki sederet gelar.

Dalam logika awam seperti saya, memang masyarakat akademislah sebagai kelompok yang paling tepat untuk menyandang predikat ilmuwan, meskipun tentu saja tidak ada jaminan dosen dengan gelar berderet atau mahasiswa yang selalu bangga mengenakan jaket almamater itu adalah ilmuwan, sebagaimana disindir oleh Gloria Steinem, bahwa sebuah kesalahan fatal jika menganggap pendidikan itu adalah sekolah, karena banyak orang sekolah justeru tidak menunjukkan sikap terdidik.

Kok bisa? Ya, iyalah. Bayangkan mana mungkin ada dosen dan mahasiswa yang tidak suka membaca dan menulis dengan alasan bukan hobi, bukan bakat dan minatnya. Aneh kan? Namun, betapa sering mahasiswa sudah bulukan karena terlalu lama di kampus, atau dosen bergelar doktorandus, magister, doktor, begitu diminta untuk menulis, dengan enteng dan tanpa beban, ia akan menjawab, setiap orang kan beda kecenderungan dan bakat, tidak bisa dipaksakan bisa menulis semua.

Lah, kalau begitu, selama ini yang mengerjakan tugas kuliah, seperti membuat makalah, tugas mandiri atau tugas akhir seperti skripsi, tesis dan disertasinya siapa? Bukankah untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut mesti menjadikan membaca dan menulis sebagai kebiasaan wajib! Memilih menjadi mahasiswa itu artinya memilih untuk menjalani kehidupan yang akrab dengan aktivitas membaca dan menulis, intim dengan buku.

Jadi, tak logis jika masih ada mahasiswa dan dosen mengatakan tidak suka buku dan tidak bisa menulis, kecuali selama kuliah dia terbiasa menjiplak karya orang lain atau nyogok orang untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Jika faktanya begitu, berarti mereka yang seperti itu, selama ini telah melakukan kejahatan paling besar dan berbahaya di dunia akademik, kejahatan serupa korupsi yang dilakukan para politisi dan pejabat di negeri ini.

Kota dan Buku

Kota umumnya dipahami sebagai wilayah geografis yang dihuni oleh orang-orang yang memiliki latar pendidikan dan pengetahuan lebih maju daripada masyarakat desa. Dalam sejarah peradaban Islam, perubahan nama Yastrib menjadi Madinah, juga dibentuk dengan latar kehidupan warga Yastrib yang bergerak lebih maju dan memiliki peradaban lebih tinggi. Istilah madinah kemudian lekat dengan istilah tamadun atau madani, karena memang memiliki akar kata yang sama, yang maknanya bisa dipahami sebagai peradaban.

Istilah tamadun atau madani ini kemudian populer dengan masyarakat madani atau dalam istilah lain sebagai civil society, sebuah gambaran tentang kota yang merujuk pada masyarakat berperadaban dengan ciri,  egalitarian (kesederajatan), menghargai prestasi, keterbukaan, toleransi dan musyawarah.

Aneh dan absurd, ketika mengaku sebagai warga kota, ternyata memiliki peradaban lebih rendah dari masyarakat desa, memiliki minat kecil terhadap pengetahuan apalagi sampai berjarak dengan aktivitas yang mengundang prestasi dan tidak akrab dengan tradisi literasi.

Sejarah peradaban kota, sangat akrab dengan peradaban buku. Dinasti Abbasiyah di Baghdad, Irak dan Turki Usmani dalam sejarah peradaban Islam, kekhalifahan yang sering disebut-sebut sebagai puncak dari kejayaan Islam adalah dua kekhalifahan yang menjadikan pengetahuan dan buku sebagai bagian utama peradaban, sehingga ketika itu dunia Islam dikenal sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia.

Di Eropa, sejarah renaissance (rebirth) pada abad ke-15 ditandai dengan kebangkitan para intelektual, dari Dante Alighieri yang menggemari puisi, terkenal dengan karyanya La Vitanuova (The New Life) dan De Monarchia hingga Niccollo Machiavelli, pemilik buku Principe dan Discorsi, buku yang sangat popoler dan mengundang perdebatan hingga kini. Begitupun halnya pada masa pencerahan (aufklarung) di Inggris, Prancis dan Jerman pada abad ke-18, memunculkan banyak intelektual seperti David Hume, Jean Jacques Rousseau hingga Immanuel Kant.

Fakta sejarah tersebut menjadi penegas bahwa betapa buku dan pengetahuan menjadi prasyarat utama sebuah peradaban besar, sehingga amat musykil bermimpi maju dan memiliki peradaban besar ketika masih berjarak dengan pengetahuan dan buku.

Ironisnya, kota ini, Kota Metro yang menakbirkan pendidikan sebagai visi dan mimpi besarnya, tetapi tidak pernah berikhtiar menghadirkan toko buku sebagaimana mereka bersemangat mempermudah perizinan Indomaret dan Alfamart dan pembangunan ruko, yang justeru mengancam mayoritas usaha sektor formil warga. Dan, lebih celaka lagi mayoritas ilmuwannya memiliki minat yang rendah untuk membaca, berdiskusi apalagi melahirkan tulisan.

Maka melalui tulisan ini, saya hendak menyerukan kepada para ilmuwan yang masih sibuk mencari-cari alasan untuk malas membaca, enggan berdiskusi dan tidak mau menulis, menulislah!

Sebagaimana dua kawan saya, dosen yang memang layak dibanggakan dan disebut ilmuwan, Oki Hajiansyah Wahab dan Dharma Setyawan, telah sukses mengajak para mahasiswanya untuk menulis. Tirulah mereka dan ajaklah mahasiswa membukukan karya-karya mereka, tugas-tugas kuliah yang dihasilkan dari proses membaca banyak buku sebagai referensi, jangan sampai berakhir di tukang rongsokan, hasil karya-karya ilmiah itu harus mampu menjadi salah satu referensi yang mengisi rak-rak perpustakaan.

Semoga dengan begitu, warga kota ini lebih mudah untuk bisa memimpikan peradaban yang baik dan maju.


Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Kota, Ilmuwan dan Peradaban Buku"