Disertasi Heboh Abdul Azis



Disertasi Abdul Azis yang berjudul Konsep Milk Al-Yamīn Muḥammad Syaḥrūr Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital membuat heboh jagad keilmuan nusantara, beragam respon muncul, ada yang merespon secara bijak sebagai wacana keilmuan, tetapi tak sedikit juga orang yang mengeluarkan sumpah serapah meski tanpa ilmu. Respon yang kemudian berimplikasi pada sikap pihak kampus di mana Abdul Azis kuliah, harus menggelar konferensi pers untuk melakukan klarifikasi dan diikuti pula oleh sikap Abdul Azis yang tergopoh-gopoh meminta maaf dan menyatakan siap melakukan revisi terhadap teks yang sudah ditelitinya sekian lama. Tragis!


Jelang dini hari (Rabu, 04 September 2019), saya dikirimkan file lengkap disertasi tersebut, 400-an halaman. Saya yang semalam suntuk belum tidur, membaca dan berusaha mencernanya. Pendekatan hermeneutik yang menjadi metode analisisnya, bukanlah metode yang benar-benar baru, dan nyaris mudah ditebak ke mana kesimpulannya akan bermuara. Sebagaimana juga ditulis dalam abstraksi disertasi tersebut, bahwa penelitian ini akhirnya menemukan 5 (lima) poin penting dari gagasan milk al-yamīn Muḥammad Syaḥrūr.

Pertama, munculnya gagasan milk al-yamīn Muḥammad Syahrūr dilatarbelakangi pemahaman bahwa milk al-yamīn adalah budak wanita (ar-riq) oleh kalangan tradisionalis. Sementara, realitasnya sistem perbudakan telah terhapus oleh sejarah; Kedua, Muḥammad Syaḥrūr menggunakan pendekatan hermeneutika hukum dari aspek filologi (fiqh al-lugah) dengan prinsip anti sinonimitas istilah ketika melakukan interpretasi konsep milk al-yamīn dalam Al-Quran, hasilnya milk al-yamīn tidak lagi berarti budak melainkan partner hubungan seksual nonmarital;

Ketiga, ekstensitas keabsahan hubungan seksual nonmarital dalam konsep milk al-yamīn Muḥammad Syaḥrūr meliputi: nikāḥ almut‘ah, nikāḥ al-muḥalil, nikāḥ al-ūrfī, nikāḥ al-misyār, nikāḥ al-misfār, nikāḥ friend, al-musākanah (samen leven) dan atau akad iḥṣān;

Keempat, limitasi hubungan seksual non marital menurut konsep milk al-yamīn Muḥammad Syaḥrūr adalah: nikāḥ al-maḥārim, nikāḥ al-mutazawwijah, az-zinā, as-sifāh, al-akhdān, dan nikāḥ mā nakaḥa al-abā’; Kelima, implikasi konsep milk al-yamīn Muḥammad Syaḥrūr terhadap hukum Islam adalah meniscayakan adanya delegalisasi perbudakan, dekriminalisasi delik perzinaan, depresiasi perkawinan poligini, dan dekonstruksi hukum keluarga Islam.

Apabila dibaca secara seksama – tanpa dibarengi rasa was-was, disertasi ini akan mengguncang iman – kita akan menemukan tak sedikit pun isinya menyerukan legalisasi perzinaan, jika pun ada, itu justeru lahir dari interpretasi atas pemikiran dalam disertasi ini, terutama soal ikhtiar melindungi pelaku perzinaan dari kriminalisasi delik hukum.

Namun, itu tentu cara saya membaca yang sangat mungkin berbeda dari orang lain. Maka, untuk menghindari syak wasangka itu, saya membagi file ini untuk kita telaah dan baca secara cermat, kemudian kita diskusikan sebagai bagian dari diskursus keilmuan.

Silahkan unduh di sini.

2/Post a Comment/Comments

Post a Comment

Previous Post Next Post