Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2019

Manusia Paradoks

Dalam kehidupan sehari-hari, barangkali kita sering menemukan hal-hal yang tampak seolah-olah bertentangan, tetapi sebenarnya tidak bertentangan atau sebaliknya, terlihat seolah-olah tidak bertentangan, tetapi sebenarnya bertentangan. Semisal, beberapa orang yang menganjurkan kebebasan, tetapi ia sangat menginginkan orang lain mengikuti pendapatnya, hatta terkadang kebenaran dan kebajikan di matanya terlihat tunggal, yaitu kebenaran dan kebajikan miliknya sendiri. Suatu malam, seorang teman bertandang, sebut saja Aji (bukan nama sebenarnya). Aji mengeluhkan tentang sikap seseorang, yang menginginkan Aji seperti dirinya atau minimal seideal apa yang dipikirkannya. “Mestinya, sebagai orang terdidik, ia tidak perlu mendiktekan soal kebaikan. Seolah-olah yang baik itu, adalah apa yang ia kerjakan dan pikirkan saja,” keluh Aji. Aku mendiamkan Aji, memberi kesempatan ia untuk menuntaskan ceritanya. Aku menangkap, orang yang diceritakan Aji pastilah menginginkan kebaikan-kebai

Hantu Rumah Kertas

Sekitar Jam 10 pagi (Sabtu, 19/10/2018), Mas Dharma Setyawan, seorang dosen dan pekerja sosial, sosok yang menginisiasi wisata warga Dam Raman dan Pasar Yosomulyo Pelangi menghubungi saya untuk membedah buku Rumah Kertas karya Carlos Maria Domingues pada Sabtu malam, lepas Isya’ di Pojok Buku Payungi, yang ia sebut sebagai Payungi University . Bedah buku, adalah program baru dari ‘komunitas’ Payungi dan akan menjadi agenda rutin dalam rangka merealisasikan desain pembelajaran Payungi University, dan kebetulan Rumah Kertas adalah buku ketiga yang dibahas setelah sebelumnya mereka membincang Ecofeminisme dan buku Geraakan Sabuk Hijau. Saya sebenarnya lebih senang menyebut kehadiran saya, -yang diminta sebagai pembedah buku Rumah Kertas- sebagai fasilator diskusi tentang buku, dan secara kebetulan yang menjadi referensi utama atau bahan diskusinya adalah Rumah Kertas . Rumah Kertas memang menjadi salah satu bacaan pavorit dan rujukan saya, terutama soal cara pandang dalam

Narcissus

Muasal cerita narsis bersumber dari mitologi Yunani, tentang seorang Dewa bernama Narcissus, yang memiliki wajah rupawan, tampan dan macho. Narcissus adalah putra dari Dewa Chepissus dan Dewi Liriope. Ketampanan dan kegagahan Narcissus semakin terlihat saat ia tumbuh menjadi dewasa, tak sedikit para dewi yang jatuh cinta. Bukan hanya para dewi, bahkan Narcissus setelah melihat bayangannya sendiri pun akhirnya jatuh cinta pada dirinya sendiri. Ia mengagumi bayangan yang terpantul lewat bening air sungai, mengulurkan tangan hendak menjangkau, hingga ia tenggelam bersama bayangan itu. Narcissus tenggelam oleh kekaguman pada diri sendiri. Meski hanya mitos, Narcissus dikenang sebagai kisah yang akrab dengan kehidupan manusia. Tak sedikit orang yang sangat terkagum-kagum dengan dirinya sendiri, hingga merasa tak ada yang lebih rupawan, selain dari bayangannya, tak ada yang elok laku selain akunya, tiada yang indah bicaranya selain kata-katanya sendiri. Narsis! Narsis,