Hantu Rumah Kertas



Sekitar Jam 10 pagi (Sabtu, 19/10/2018), Mas Dharma Setyawan, seorang dosen dan pekerja sosial, sosok yang menginisiasi wisata warga Dam Raman dan Pasar Yosomulyo Pelangi menghubungi saya untuk membedah buku Rumah Kertas karya Carlos Maria Domingues pada Sabtu malam, lepas Isya’ di Pojok Buku Payungi, yang ia sebut sebagai Payungi University. Bedah buku, adalah program baru dari ‘komunitas’ Payungi dan akan menjadi agenda rutin dalam rangka merealisasikan desain pembelajaran Payungi University, dan kebetulan Rumah Kertas adalah buku ketiga yang dibahas setelah sebelumnya mereka membincang Ecofeminisme dan buku Geraakan Sabuk Hijau.

Saya sebenarnya lebih senang menyebut kehadiran saya, -yang diminta sebagai pembedah buku Rumah Kertas- sebagai fasilator diskusi tentang buku, dan secara kebetulan yang menjadi referensi utama atau bahan diskusinya adalah Rumah Kertas.

Rumah Kertas memang menjadi salah satu bacaan pavorit dan rujukan saya, terutama soal cara pandang dalam membaca dan memperlakukan buku. Rumah Kertas adalah salah satu buku yang berbahaya, dan andai sisa rezim Orde Baru yang ‘doyan’ merazia buku itu tahu, pastilah buku ini menjadi salah satu buku yang ada dalam daftar ‘buku berbahaya’ dan wajib dirazia.


Buku itu berbahaya! Paling tidak itulah yang saya tangkap dari narasi Rumah Kertas, terutama di halaman-halaman awal. Bluma harus meninggal tertabrak mobil di tikungan jalan, karena sedang asyik menyusuri baris-baris Poem karya Emily Dickinson.

Menurut Carlos Maria Domingues, buku mengubah takdir banyak orang. Membaca petualangan Sandokon dalam Bajak Laut dari Malaysia mendorong orang menjadi profesor sastra di universitas-universitas terpencil, Shiddartha membuat puluhan ribu anak muda menggandrungi kebatinan, Ernest Hemingway si peraih ragam penghargaan, mulai dari Hadiah Pulitzer tahun 1953 hingga Hadiah Nobel Sastra tahun 1954 yang terkenal lewat salah satu karyanya The Old Man and the Sea itu, telah mendorong orang untuk terus optimis dan kuat.

Lepas dari cerita itu, di negeri ini, tentu kita tak akan pernah lupa, bagaimana rezim Orde Baru sangat ketakutan dengan buku. Bahkan, hingga kini secara genetik dari sisa-sisa rezim itu, masih terus menggalakkan razia buku.

Buku itu berbahaya. Buku merasuki dan mendiami setiap kepala, mengubah cara pandang, memprovokasi orang untuk melawan.

Membaca buku, bisa membuat orang terpingkal-pingkal, mengerutkan dahi, hingga berurai air mata kesedihan. Maka, tak berlebihan jika ada yang menyebut bahwa buku menjadi pintu utama bangunan peradaban pengetahuan.

Buku Rumah Kertas ini berkisah tentang sebuah petualangan yang dimulai dari paket berisi buku tua The Shadow Line karya Joseph Conrad, ditujukan untuk Bluma Lennon, seorang dosen nyentrik nan sensual,  dan telah mangkat duluan sebelum menerima paket itu, sehingga mendorong tokoh ‘Aku’ bermaksud untuk mengembalikan buku tersebut, lebih tepatnya penasaran menelusuri dan mengetahui siapa pengirim buku tersebut untuk menyingkap tabir rahasia Bluma yang pernah berbagi ranjang dengannya.

Pencarian ‘Aku’ ke tempat-tempat konferensi yang biasa didatangi Bluma, menakdirkannya bertemu dengan Agustin Delgado, seorang bibliofil yang memiliki koleksi lebih 18 ribu judul buku, sosok yang bukan hanya membeli buku dan membacanya, tetapi juga menyimpannya di dalam rak-rak lemari yang terbuat dari bahan pilihan antiserangga. Memberikan catatan-catatan atas buku yang dibacanya di kertas terpisah (lain), agar buku tersebut tetap rapi dan bersih, memiliki waktu membaca paling sedikit 4 jam sehari.

Pertemuan ‘Aku’ dengan Delgado, menjadi petunjuk bertemu si pengirim paket, Carlos Brauer, seorang biobliofil istimewa yang aneh. Meski sama-sama penyuka buku, seperti Delgado, Carlos yang memiliki koleksi lebih dari 20 ribu judul buku, nyaris tak menyisakan ruang di rumahnya untuk tidak terisi buku, bahkan ia merelakan tempat tidurnya dipenuhi dengan buku-buku, hingga menyentuh plafon. Dan, Carlos rela mengungsi untuk tidur menyempil, tatkala terjaga ia membaca buku sepanjang siang dan malam.

Bertolakbelakang dengan Delgado, Carlos Brauer selalu mencoret-coret halaman buku yang dibacanya. Ketika Delgadp memperingatinya agar tak merusak edisi-edisi berharga itu dengan coretan, dan menyebutnya tak peka, maka ia akan menyebut balik Delgado sebagai sok suci. Menurutnya, bahwa dengan menulis marjin-marjinnya dan menggarisbawahi kata-kata, kerapkali dengan warna berbeda-beda yang mengandung sandi tertentu, ia bisa lebih menangkap maknanya.

“Aku senggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme.” Ujar Carlos. (hal. 32)

Agustin Delgado dan Carlos Brauer, adalah dua wakil yang bisa menjadi rujukan para penyuka buka. Delgado yang merawat dan memosisikan buku sebagai harta berharga, merawatnya dan menempatkannya secara istimewa dan hati-hati, serta Brauer yang memosisikan buku miliknya sebagai ‘kekasih’ yang harus dijamah, dan wajib ada ‘bekas’ sebagai tanda bahwa ia memang telah ‘orgasme’ membaca buku tersebut.


Membaca buku ini, paling tidak kita akan mengenali di bagian mana posisi kita sebagai penyuka buku, di antara bibliofil-bibliofil yang dibagi oleh Carlos Maria Domingues pada dua golongan. Pertama, kolektor. Bibliofil yang bertekad mengumpulkan buku edisi langka, artikel, majalah atau buku-buku bertanda tangan penulisnya, sekalipun mereka tak pernah membukanya selain untuk melihat halaman-halamannya (daftar isi). Kedua, para kutu buku. Pelahap bacaan yang rakus, seperti Brauer, yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tak sedikit, untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam (hal. 17), atau justeru kita akhirnya menarik kesimpulan tidak sedikitpun kriteria itu yang kita penuhi.

Di akhir catatan saya tentang buku ini, sebagai penutup saya ingin menyampaikan bahwa membaca buku sesungguhnya tidaklah semata menelusuri aksara, melepas dahaga, melainkan juga menemukan kekuatan untuk ‘menjadi’, dan untuk itu pilihan bacaan akan sangat menentukan keinginan kita untuk mendapatkan dan menjadi ‘apa’. Jika pemerintah takut dengan buku-buku yang ditulis Wiji Tukul, Pram, Tan Malaka, Aidit, maka semestinya mereka akan lebih takut kepada yang membacanya, karena pembaca yang baik, tentu telah mewujud tak sekadar ‘hantu kertas’.



Rahmatul Ummah (Penyuka Buku, Warga Yosomulyo)


Catatan: Buku ini sebenarnya sudah pernah saya resensi di blog ini dua tahun yang lalu dengan judul Petualangan Bertemu Orang-Orang Gila Buku.

0 Response to "Hantu Rumah Kertas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel