Narcissus


Muasal cerita narsis bersumber dari mitologi Yunani, tentang seorang Dewa bernama Narcissus, yang memiliki wajah rupawan, tampan dan macho. Narcissus adalah putra dari Dewa Chepissus dan Dewi Liriope.

Ketampanan dan kegagahan Narcissus semakin terlihat saat ia tumbuh menjadi dewasa, tak sedikit para dewi yang jatuh cinta. Bukan hanya para dewi, bahkan Narcissus setelah melihat bayangannya sendiri pun akhirnya jatuh cinta pada dirinya sendiri. Ia mengagumi bayangan yang terpantul lewat bening air sungai, mengulurkan tangan hendak menjangkau, hingga ia tenggelam bersama bayangan itu. Narcissus tenggelam oleh kekaguman pada diri sendiri.

Mitologi Yunani

Meski hanya mitos, Narcissus dikenang sebagai kisah yang akrab dengan kehidupan manusia. Tak sedikit orang yang sangat terkagum-kagum dengan dirinya sendiri, hingga merasa tak ada yang lebih rupawan, selain dari bayangannya, tak ada yang elok laku selain akunya, tiada yang indah bicaranya selain kata-katanya sendiri. Narsis!

Narsis, barangkali memang seorok dengan manusia, tabiat yang tak mungkin dicerai, hingga nabi pun berpesan, untuk tak terlena dengan puja-puji yang bisa membangkitkan sifat narsis, “lemparkan tanah pada mulut yang suka memujimu!” begitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi. Tentu ‘melemparkan tanah pada mulut’ yang suka memuji adalah kata kiasan yang dimaknai sebagai penyangkalan atau penolakan keras atas pujian yang dilakukan oleh seseorang secara terus menerus (suka) sehingga bisa menggelincirkan orang yang dipuji.

Imam An Nawawi dalam kitab Faidh Al Qadir mengatakan bahwa pujian itu boleh saja dilakukan, selama disampaikan dengan jujur dan tak berlebihan, tetapi ia menjadi makruh jika pujian itu mengakibatkan orang tergelincir menjadi ujub (mengagumi diri sendiri).

Dalam riwayat lain, dari Anas bin Malik, Nabi juga menasihatkan bahwa: “Ada tiga perkara yang bisa membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ketakjuban seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. Thabrani dan Baihaqi).

Narsis, dalam pengertian percaya pada diri sendiri dan tidak selalu menggantungkan diri pada standar dan prestasi orang lain tentulah tak dilarang. Andrew Morisson (1997) mengatakan bahwa narsis dalam jumlah yang cukup, justeru menyehatkan, karena orang akan memiliki persepsi yang seimbang tentang kebutuhan dan hubungannya dengan orang lain, tidak semata-mata bertindak menurut persepsi orang lain, ia merdeka dan tak didikte semata oleh pengertian-pengertian yang diberikan orang lain tentang dirinya. Narsis yang cukup, menjadikan ia memiliki otonomi dan kemerdekaan atas dirinya.

Namun, menjadi musibah tatkala narsis didekap secara tak proporsional. Tindakan mengagumi diri sendiri mendorongnya untuk menegasikan kelemahan sendiri dan menyingkirkan kelebihan orang lain.

Contoh kasus. Suatu ketika, saya memilih jalan sunyi dan menganggap mereka yang tak menempuh kesunyian itu adalah mereka yang gandrung atas dunia, haus puja-puji. Di satu waktu yang lain, ketika saya sedang gandrung pada keramaian, pergulatan hidup yang saya sebut perjuangan dan kepedulian, saya juga menilai mereka yang memilih jalan sunyi adalah mereka yang egois dan miskin empati. Ketika berasyik masyuk bersama Tuhan di jalan peribadatan, di masjid dan tempat-tempat penyembahan, saya selalu menilai mereka yang cekikan di taman, tertawa di cafe-cafe atau hilir mudik di jalan, merupakan orang-orang yang jauh dari ketaatan dan Tuhannya.

Saya selalu menganggap, bahwa jalan yang saya tempuh adalah jalan kebenaran dan paling ideal, sehingga jalan yang dipilih orang lain adalah jalan cela dan penuh kesesatan. Narsis!

Saya mengagumi tutur dan tindakan sendiri yang hebat, dan tentu menginginkan orang lain juga mengagumi dan mengikutinya. Narsis, menyeretku untuk selalu mengagumi 'keakuan', aku yang bajik, aku yang relegius dan taat, serta aku yang pandai, hingga tak tersisa ruang pujian dan penghargaan terhadap orang lain.

Begitulah manusia kata Ali Syariati, yang lahir dari dua hakikat yang berbeda; tanah lumpur dan ruh suci. Tanah (lumpur) adalah simbol kerendahan dan kenistaan serta kekotoran, di sisi lain ruh suci bersumber dari Tuhan, simbol kemahasempurnaan dan kesucian. Manusia adalah sintesa dari dua dimensi tersebut, ia memiliki kebebasan untuk bergerak menuju ke kerendahan, kenistaan atau menuju kepada kesempurnaan.

Manusia yang melupakan asalnya, akan memiliki narsisme yang akan mengarahkannya pada rasa percaya diri yang berlebihan, memandang dirinya paling benar, paling hebat, paling alim, dan orang lain tak lagi menjadi penting bahkan cenderung tak dihargainya, kecuali mereka yang memilih sejalan atau menjadi pengikutnya.

Dominasi narsisisme seperti itu akan melahirkan mekanisme pertahanan yang menganggap orang lain atau pendapat lain (the other/yang berbeda) sebagai ancaman.



Rahmatul Ummah (Warga Yosomulyo)

0 Response to "Narcissus"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel