Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2019

Metro Creative Hub atau City Hub?

Pada tulisan Kota Kreatif, Creative Hub dan City Hub sedikitnya saya telah menyinggung soal kritik terhadap kota kreatif. Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan tersebut, sebagai respon terhadap visi, misi dan program para bakal calon wali kota yang berniat maju dalam Pilkadal 2020 nanti. Sebagai warga kota, yang telah puluhan tahun mendiami kota ini, menurut saya penting untuk memberikan catatan, meski barangkali sulit untuk didengar, di tengah kegaduhan kontes pembangunan dan pertunjukan atraksi politik. Terlebih ketika mindset pembangunan diimajinasikan sebagai membangun tembok dan gedung-gedung mewah di sepanjang jalan utama. Sekadar memutar ulang ingatan kita, tiga tahun terakhir di sepanjag Jl. Jendral Sudirman, sedikitnya telah berdiri dua toko modern, puluhan ruko, dan beberapa bangunan yang dialihfugsikan menjadi hotel, proses perizinannya pun tergolong cepat, seolah tanpa kendala untuk memenuhi syarat analisis mengenai dampak lingkungan, analisis dampak lalu li

Kota Kreatif, Creative Hub dan City Hub

Tulisan ini, akan menjadi tulisan bersambung. Merespon visi, misi dan program para kandidat wali kota yang akan bertarung pada pemilihan kepala daerah langsung (Pilkadal) Kota Metro tahun 2020 nanti. *** Beberapa waktu lalu saya diundang menghadiri diskusi tentang kota, temanya keren “ Membangun Metro Menjadi City Hub”. Tentu, sebagai orang yang sering gelisah –gelisah itu mewakili kata peduli dan reseh (campur resah) — melihat pembangunan kota, mendorong saya cukup memiliki alasan untuk hadir. Membincang kota menjadi cara berekspresi paling menggairahkan. Meski akhirnya, beberapa kali harus menelan ludah kekecewaan, karena ternyata yang dibincangkan jauh dari ekspektasi. Ideologi pembangunanisme ala pembangunan di era Orde Baru, yang berfokus pada pembangunan fisik dan telah banyak dikritik itu, tetap menjadi pilihan utama. Pembangunan infrastruktur seperti terminal, jalan lingkar ( ring road ) yang menghubungkan Kota Metro dengan bandara, dan daerah-daerah sekitarn

Tidak Ada Alasan Untuk Membenci

Mengapa kita membenci? Jika kita sederhanakan alasannya hanya satu, karena berbeda. Orang atau kelompok yang kita benci, memiliki gaya atau cara berpikir berbeda, cara bertindak berbeda, kemauan berbeda, dan ragam perbedaan lainnya. Dari perbedaan itulah, kemudian lahir sebutan-sebutan, pengkhianat, munafik, pecundang, pelacur, monyet, anjing atau segala jenis nama binatang lainnya, sebutan-sebutan yang merujuk pada level kebencian kita. Kita (mungkin) tidak akan pernah membenci orang atau sesuatu yang sejalan, sekehendak dengan kita, kecuali sesuatu atau orang itu telah menyelisihi jalan atau kehendak kita. Membenci mantan, misalnya. Kita mustahil membenci apa yang kita suka, kecuali kita telah berhenti menyukainya. Berbeda dengan cinta yang sangat menyukai perbedaan. Cinta tak memiliki alasan untuk membenci perbedaan, bahkan cinta selalu memiliki alasan dan cara berdamai atas perbedaan yang menyerang sekali pun. Sebutlah minyak dan air yang sering dituduh musykil

Hegemoni Bahasa, Moral dan Teror

Sejak dulu, kita telah dicekoki pengertian tunggal oleh penguasa tentang diksi moral, kebajikan, adab atau kontradiksinya. Dalam buku Indonesia Beyond Soeharto karya Donald K. Emerson (2001) dijelaskan bahwa pencekokan bahasa itu bertujuan membatasi variasi ekspresi, –terutama di bidang media, literatur, dan seni— untuk memupuk perkembangan kebudayaan politik nasional yang seragam. Kekuasaan Orde Baru sangat membenci kebebasan dan perbedaan pendapat, mencurigai warga negara yang berkumpul, menyortir buku dan tidak mengizinkan buku-buku yang terbit tanpa melalui ‘pengeditan’ negara untuk beredar, buku yang terlanjur terbit dirazia dan dibakar, mengontrol berita, siaran radio dan televisi. Intinya tidak boleh ada gerak dan suara yang keluar, jika tak seirama dengan kehendak Soerharto. Jika ada yang memaksakan diri (ngotot) , maka Soeharto akan berkata: “Amankan!” seraya tersenyum penuh makna. Amankan adalah eufemisme dari “bereskan, singkirkan atau hilangkan” , yang dise