Menjadi Kader


Menjadi kader HMI itu berat. Tak semulus dan seindah yang dibayangkan. Barangkali ada yang memiliki motivasi, jika ia ber-HMI, maka secara otomatis ia akan mendapat koneksi kemudahan, mudah menjadi pejabat, karena banyaknya alumni yang berada di sumbu-sumbu kekuasaan, mudah mendapatkan pekerjaan, karena banyaknya alumni yang mapan. Namun, setelah ia jalani, ia harus menelan kekecewaan, karena ekspektasi besar itu tak selalu sejalan dengan kenyataan.

Menjadi kader HMI itu berat. Seseorang harus menanggung beban sejarah yang besar. HMI telah ditakdirkan menjadi organisasi besar dan tertua, telah diidentikkan sebagai himpunan kaum intelektual. Menjadi kader yang jauh dari buku, berjarak dari pengetahuan, hanya akan menurunkan citra organisasi.

Menjadi kader HMI itu berat. Cak Nur yang sukses menbangun image organisasi moderat dan inklusif, meniscayakan kader memiliki karakter egaliter, toleran dan terbuka.

Citra positif HMI, belakangan terjun bebas bukan karena HMI yang telah sepuh.

HMI kini, tak lebih seperti sebuah monumen mati, digerogoti oleh kader-kader yang berhimpun di dalamnya. Kader tak lagi memiliki karakter insan cita yang diidealkan, terlalu asyik bermain di lingkar kekuasaan, tak peduli sedang dimanfaatkan, yang penting senang karena telah cukup kenyang.

Bukan cerita baru, jika di setiap perhelatan kongres, para pemodal ikut 'bermain', mengacak-acak arena kongres dengan 'duit' mereka, membiayai kandidat yang siap jadi 'boneka'. Setali tiga uang, cabang yang mestinya mendapat mandat menyuarakan para kader di tingkat komisariat, ujung tombak perkaderan, juga menjadi permisif. Alasannya, butuh ongkos tak sedikit memulangkan kader atau mencari uang tambahan untuk beli hape seri terbaru.

Mencari kader yang akrab dengan tradisi pemikiran Islam, mengenal sosok dan pemikiran para tokoh intelektual muslim seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, al Farabi. al Ghazali, nyaris sama dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Ada, tapi langka.

Setiap ada kader baru yang penuh semangat untuk belajar, diskusi dan membaca buku, dalam hitungan minggu tumbang satu persatu, entah apa sebab? Mungkin, karena diskusi dan membaca buku tak membuat mereka menjadi kaya. Atau, bisa jadi karena doktrin yang konon aksi jauh lebih baik daripada berlama-lama diskusi dan baca buku. Jadilah, aksi turun ke jalan untuk menaikkan level posisi tawar terhadap penguasa yang lebih diminati.

Menjadi kader HMI itu berat. Terlebih di era, di mana orang senang mengeneralisasi, menyamaratakan. Jika Anda kader HMI, maka Anda bagian dari HMI connection, bagian tukang olah dan ahli menelikung kawan.

Tak perlu marah dan reaktif. Anggapan itu tak mungkin sepenuhnya keliru, pepatah lama tak ada asap jika tak ada api. Terlalu banyak yang bisa ditunjuk sebagai sumber asapnya.

Jika mencari kader yang akrab dengan tradisi intelektual teramat sulit, mencari kader 'pemain', tukang olah, ahli telikung, tentu lebih mudah. Di setiap tempat berlimpah-limpah stok.

Namun, tak selalu itu juga alasan utamanya.

Banyak orang jengah, melihat HMI connection nyaman berada di poros kekuasaan. Hampir di setiap tempat, kader HMI terdistribusi dengan baik.

Tak mungkin ada anggapan HMI sebagai ancaman, jika memang HMI tak berbahaya.

Tugas kita sebagai kader HMI, mengejawantahkan sinyal bahaya itu sebagai energi positif, lewat tindakan yang berbasis pada pengetahuan dan wawasan yang luas. Bukan sebagai bahaya layaknya virus yang harus dimusnahkan.

Tak perlu mendewa-dewakan nama besar HMI dan para alumni, karena kebesaran HMI dan alumninya tidak akan pernah berpengaruh secara signifikan terhadap masa depanmu.

Nama besar HMI dan para alumni -tentu yang positif- akan memiliki pengaruh jika diimbangi dengan cara meneladani kebesaran mereka, mengikuti jejak intelektualnya. Dan, sialnya berbanding terbalik dengan harum nama baik alumni, laku buruk para alumni, tak diteladani pun seringkali 'bau busuknya' menempel tanpa diminta.

Maka, jika kamu tak mau bersusah-susah dalam belajar, meminjam istilah Imam Syafi'i, maka kamu harus siap menelan pedihnya kebodohan.

Sungguh HMI itu mengajarkan perjuangan, bukan nebeng beken! Dan, karena itu enjadi kader HMI berat, kecuali bagi mereka yang mau belajar dan mau berjuang.

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post