Widget HTML Atas

Ruang Publik, Creative Hub dan Masa Depan Kota

Ruang Publik, Creative Hub dan Masa Depan Kota

Membangun masa depan kota, bukan soal membangun keramaian, pusat-pusat belanja dan kepadatan serta hilir-mudik manusia, namun membangun kota berarti juga membangun manusia, mentalitas dan kepribadiannya, sehingga kota tidak diisi oleh orang-orang yang justeru teralienasi dari lingkungannya.

Kota tidak boleh memiliki jarak dengan kemanusiaan, di sinilah pentingnya untuk membicang ulang kota, sebagai tempat tinggal manusia, sebagai tempat tinggal bersama, yang memiliki ruang publik untuk menjadi tempat mereka berinteraksi dan membangun rasa solidaritas sosial antar warga kota.

Pertumbuhan penduduk kota, urbanisasi, dan tekanan ekonomi masyarakat perkotaan adalah fenomena menahun yang terjadi hampir di semua kota-kota besar di Indonesia. Secara fisik keruangan, fenomena tersebut berpengaruh pada pola penggunaan lahan perkotaan baik yang sifatnya hak milik pribadi, kelompok/lembaga maupun lahan milik negara. Makin tingginya kebutuhan lahan di perkotaan membuat harga lahan makin tinggi, dan makin hilangnya kemampuan masyarakat kecil untuk mengaksesnya, baik yang berfungsi privat maupun publik. Akibatnya, proses eksploitasi lahan besar-besaran oleh kelompok/lembaga yang memiliki kekuatan ekonomi hampir tidak menyisakan ruang publik yang memadai.

Di sisi lain, proses eksploitasi lahan perkotaan yang tidak proporsional makin menunjukkan fenomena sosial masyarakat perkotaan yang makin tersegmentasi baik secara fisik maupun sosial. Padahal, proses segmentasi masyarakat perkotaan inilah yang disinyalir para ahli sosial sebagai ancaman terjadinya berbagai konflik di masyarakat. Makin terpecah-pecahnya ruang fisik dan ruang sosial mengakibatkan hilangnya trust (kepercayaan), network (jaringan) atau hubungan sosial, dan local wisdom (kearifan lokal) yang ada di masyarakat. Padahal ketiga faktor tersebut merupakan modal sosial yang seharusnya tetap dipelihara dalam kehidupan bermasyarakat.

Warga kota yang tersegmentasi akhirnya menjadi sangat individualistik, mereka bergerak ke arah saling tidak mengenal dan akhirnya kehilangan identitasnya sebagai makhluk sosial yang seharusnya saling membutuhkan, di sinilah akhirnya diperlukan ruang publik untuk mengembalikan semangat kesetiakawanan sosial tersebut.

Secara sederhana, yang dimaksud ruang publik adalah ruang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum sepanjang waktu, tanpa dipungut bayaran (Danisworo, 2004). Baskoro Tedjo (2005) mendefinisikan ruang publik sebagai ruang yang netral dan terbuka untuk siapa saja, untuk berkegiatan dan berinteraksi sosial. Ruang publik dapat berbentuk jalan (street) yang bersifat linier, dan berbentuk lapangan (square) yang berbentuk simpul.

Keberadaan ruang publik kota memiliki makna yang besar bagi masyarakat karena sifat penggunaannya yang mengandung fungsi sosial dan kultural kemasyarakatan sebagai dasar penguatan sendi-sendi kehidupan masyarakat dalam melakukan proses pembangunan. Maka masyarakat kota di tengah keterbatasan lahan harus tetap berusaha mempertahankan dan menciptakan ruang publik yang dapat dipergunakan bersama.

Dalam konteks yang lebih luas, ruang publik sebagai sub-sistem dari kota, memiliki peran sangat penting dalam mengontrol, mengendalikan dan menegaskan orientasi perkembangan ruang kota secara morfologis maupun sosiologis. Namun, kondisi keterbatasan ruang pada lingkungan permukiman warga kota yang pola perkembangannya lebih bersifat unplanned, eksistensi ruang publik sebagai wadah aktivitas bersama makin terpinggirkan.

Minoritas Kreatif dan Rumah Bersama


Arnold J. Toynbee (1961) merumuskan sebuah teori kompleks mengenai kemunculan dan kejatuhan berbagai peradaban di dunia, yang kemudian dianggap sebagai salah satu pencapaian terhebat dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Sebuah kota dimungkinkan juga mengalami kehancuran peradaban menjadi human zoo atau cities of sorrow sebagaimana di tulis oleh Eko Budiharjo (2014) dalam buku Reformasi Perkotaan.

Namun Toynbee percaya kehancuran itu dapat ditunda lebih lama. Syaratnya, apabila minoritas (elit) kreatif bekerja keras menjaga (merawat) nilai-nilai abadi: kebenaran, keadilan, dan akal sehat (rasio). Toynbee meyakini, lahirnya sebuah peradaban diinisiasi oleh komunitas kecil yang ia sebut sebagai minoritas kreatif (creative minority). Kelompok ini bekerja secara terus-menerus membesarkan peradaban hingga tumbuh menjadi peradaban gemilang. Selanjutnya, bila kelompok ini kehilangan daya kreatifnya, maka peradaban yang gemilang tadi akan redup, lantas mengalami kehancuran.

Kelompok kecil kreatif  yang dikenalkan oleh Arnold Toynbe tersebut dalam konteks lokal Kota adalah sebuah komunitas kecil yang selalu berikhtiar dan berpikir terus menerus untuk melahirkan ide-ide kreatif untuk membangun dan meningkatkan kapasitas individu dan sosialnya, sehingga mereka menjelma menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan karena gagasannya, dan mereka berkumpul dalam ruang publik yang menjadi rumah bersamanya.

Rumah bersama adalah istilah yang dikembangkan untuk menjadi tempat tinggal bersama komunitas minoritas kreatif ini, tempat berdiskusi melahirkan gagasan-gagasan baru dan kerja-kerja kreatif secara terus menerus. Rumah bersama bahkan bukan hanya diorientasikan sebagai tempat bersemainya gagasan dan kerja-kerja kreatif yang berorientasi memproduksi ilmu pengetahuan, rumah bersama juga kemudian dikembangkan dalam rangka mendukung usaha ekonomi kreatif dengan cita rasa lokal (local economic development). Usaha ekonomi kreatif yang digagas di ruang publik sebagai tempat tinggal bersama adalah usaha ekonomi bersama melibatkan warga, membangun dan menyelenggarakan kegiatan ekonomi mulai dari tempat, etalase, produksi sampai menjualnya semua dilaksanakan secara gotong royong.


Creative City Hub: Ruang Publik Sebagai Rumah Bersama


Sudah saatnya pemerintah mengambil peran untuk memfasilitasi segenap talenta warga kota dengan membangun pusat kreatitivitas atau yang populer dikenal dengan istilah creative city hub, sebuah tempat atau ruang publik yang menjadi rumah bersama untuk menghubungkan (interkoneksi) ragam talenta.

Tempat atau ruang publik yang diikhtiarkan dan difokuskan pada penyediaan ruang bagi pekerja kreatif untuk berkarya dan berkegiatan, creative city hub adalah tempat belajar, penelitian dan pengembangan, dan membuat prototipe produk, ruang fisik maupun virtual yang menghubungkan dan menggabungkan orang-orang dengan kewirausahaan di bidang industri kreatif, seni dan budaya. Mereka bisa saja terdiri dari para seniman, budayawan, jurnalis, arsitek, desainer, dokter, dosen, sineas, pekerja kuliner atau ragam profesi lainnya.

Ruang publik yang bisa direkayasa menjadi tempat unik dan nyentrik, terdapat ruang-ruang kelas untuk belajar (ruang untuk berbagi pengetahuan), ada perpustakaan, cafe, toko desain, galeri, ruang sinema, co-working space, ruang studio (foto/musik) dan workshop, yang dilengkapi dengan berbagai peralatan, dan sejumlah fasilitas tersebut gratis untuk digunakan dengan syarat mengajukan permohonan terlebih dahulu, agar lebih tertib dan terjadwal.

Ruang publik tersebut bisa menjadi rumah bersama warga kota, yang menjadi tempat berinteraksi dan akhirnya melahirkan nalar publik. Warga kota akan menjadi para pekerja produktif dan pekerja kreatif, dan akhirnya merekalah yang akan merencanakan masa depan kota dan menciptakan pekerjaan, gagasan-gagasan baru, serta konten kreatif.

Creative city hub sebagai rumah bersama adalah upaya untuk mendorong bahwa kota dan warganya saling berinteraksi dengan dinamis. Di satu sisi kota menjadi muara bagi imajinasi dan dunia kreatif, sedangkan di sisi lain, kota mempunyai kekuatan untuk mendorong, menggerakkan, memusatkan dan menyalurkan energi kreatif itu. Dalam proses interaksi itu kota mampu mengubah energi kreatif menjadi inovasi-inovasi yang melingkupi ranah teknis maupun ranah artistik kultural. Oleh sebab itu kota menjadi sumber yang tak henti-hentinya menciptakan lapangan kerja, melahirkan bentuk-bentuk industri dan perdagangan baru di tengah-tengah masyarakatnya.

Masa depan kota yang membahagiakan akan tercermin melalui ruang publik seperti creative hub, Taman Kota, lapangan dan beberapa tempat terbuka lainnya, semua bisa berfungsi menjadi rumah bersama semua warga kota. Space yang akan memanusiakan mereka dengan saling berinteraksi, bagi pekerja kreatif yang terdiri dari para jurnalis, ahli komunikasi, ahli IT, ilmuan, tenaga ahli yang mengabdi di pusat-pusat pendidikan dan penelitian, arsitek, serta mereka yang bergerak di bidang kebudayaan seperti penyair, pemusik, desainer, perancang atau pekerja dalam dunia hiburan bisa saling terhubung dan bertukar pengetahuan.

Selain itu para pekerja kreatif tersebut dengan ragam talenta dan profesi yang berbasis pengetahuan dan kreativitas yang dikategorikan ahli sosio-ekonomi Richard Florida sebagai kelas kreatif (creative class) bisa menjadi penggerak ekonomi kota di masa depan, karena interkoneksi di rumah bersama bernama creative city hub mereka bisa saling memerlukan, saling membutuhkan sehingga bisa saling berbagi kerja dan saling meringankan beban.

Kemampuan kreativitas warga kota adalah sumber daya paling nyata bagi trend ekonomi berbasis penciptaan nilai, sekarang dan masa depan. Kreativitas merupakan konstruksi kemampuan intelektual yang melingkupi segala bentuk potensi yang terdapat di dalam diri manusia yang kemudian diekspresikan dalam bentuk produk-produk budaya. Oleh karena itu kota, yang didefinisikan sebagai tempat pemukiman manusia dengan jumlah besar, adalah tempat berkumpul dan berinteraksinya sumber daya kreatif yang hampir tidak terbatas itu.

Jika semua ini terwujud, maka secara otomatis tidak akan ada lagi kegaduhan-kegaduhan di ruang publik karena isu ketidakadilan dan diskriminasi, adanya jarak antara yang empunya dengan yang papa, antara kelas elit dan alit. Ruang publik sebagai rumah bersama yang melahirkan nalar publik dan kreatifitas akan menjembatani kesenjangan sehingga akhirnya semua birsinergi dan semua berbahagia.


*Rahmatul Ummah adalah Warga Warga Yosomulyo

Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Ruang Publik, Creative Hub dan Masa Depan Kota"