Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2020

Mencintai Bahasa Indonesia

Berbahasa Indonesia bukan hanya soal berbahasa yang baik dan menggunakan ejaan yang baku, tetapi juga soal berbahasa yang logis. Menuruti kredo Om Iqbal Aji Daryono dalam buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira , kelogisan menuntut orang untuk mempekerjakan akal secara kreatif, sedangkan baik-benar umumnya berpaku pada pakem. Berbahasa Indonesia dengan logis, bukan pula soal 'sok-sokan' atau juga berlagak layaknya 'Polisi Bahasa'. Di facebook,  saya mengunggah foto yang saya temukan 'berseliweran' di media sosial, soal penggunaan bahasa atau istilah-istilah yang terlihat atau terbaca sangat aneh --jujur sangat menganggu. Unggahan tersebut, direspon banyak kawan. Barangkali ada yang menganggap saya nyinyir, absah saja. Namun, selain nyinyir, saya ini juga humoris. Saya bukan tak pernah didamprat karena tertangkap menggunakan istilah-istilah 'lucu dan aneh' dalam berbahasa Indonesia.  Udo Z Karzi   adalah salah satu senior yang s

Guru Aini; Antara yang Mungkin dan Tak Mungkin

  "Apa pun yang tak dapat membunuhmu, akan membuatmu semakin kuat." ( Guru Aini , hal. 28) Akhirnya --sebagai pembaca hampir semua karya Andrea Hirata-- Aku kembali menemukan alur yang mengalir, setelah Tetralogi Laskar Pelangi: Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov . Cukup lama beku. Karya-karya Andrea --menurutku—sangat kaku, ribet dan menjenuhkan, terutama ketika membaca Sirkus Pohon . Novel Guru Aini ini kembali ke khittah nya, mengalir, mampu menarasikan hal-hal rumit menjadi sederhana, lucu sekaligus mengharu biru. Diawali dengan cerita keteguhan pendirian seorang remaja putri, Desi Istiqomah yang bercita-cita menjadi guru matematika, mengalahkan bujukan ibunya yang lebih menginginkan Desi kuliah di fakultas kedokteran atau menjadi insinyur, sarjana ekonomi, sarjana hukum atau sarjana apa saja, selain guru matematika. Ibu Desi beranggapan, menjadi guru matematika akan mengantarkan anaknya mengabdi di pelosok dan jauh dari kese

Fagetti Supplier Marmer Terlengkap dengan Ragam Jenis dan Motif Unik

Mengenal Marmer dan Supplier Marmer Terlengkap di Indonesia MEMILIKI rumah estetik dan mewah tentu menjadi idaman setiap orang. Maka, tak keliru jika banyak yang menggunakan material marmer sebagai simbol kemewahan tempat tinggal. Bukan sebatas sebagai lantai, tetapi juga menjadi aksen dinding, meja dan kursi, karena selain mewah marmer juga mampu menurunkan suhu ruangan. K ilau yang timbul dari susunan polanya yang unik melahirkan pesona keindahan dan mengundang decak kagum. Di Indonesia batu marmer dikenal sebagai batu pualam, merupakan batuan metamorf yang berasal dari rekristilasiasi batu kapur. Corak dari batu marmer yang asli berbeda-beda, karena corak yang dihasilkan pada batu marmer merupakan hasil dari proses pembentukan batuan secara alami. Misal Marmer Lampung memiliki karakter warna dasar abu-abu mengilap, urat berwarna putih dan abu-abu kehitaman, tampilannya halus tanpa lubang, transparan, keras, termasuk jenis marmer kristalin. Marmer dari Makasar, warnany

Politisi dan Orang-Orang Gila

Pernah melihat sosok berpakaian compang-camping, dekil dan bau, hilir mudik di pusat kota membawa karung bekas, mengorek-orek sampah, lantas tiba-tiba berdiri tegak di pinggir jalan, dan dengan suara lantang berorasi, persis seperti penceramah berpengalaman, intonasi dan mimiknya ekspresif? Lantas menuding orang-orang lewat sebagai orang gila? Pernah jugakah berjumpa dengan satu momentum, di mana orang gemar memuji dirinya sendiri, melakukan hal-hal di luar kebiasaannya, makan nasi aking, datang ke tempat-tempat kumuh, pasar dan pelosok-pelosok kampung, naik becak dan berkuda di tengah kota? Saya ingin tegaskan mereka bukanlah sosok yang sama, meski terkadang susah membedakan perilakunya. Perhatikanlah, senyum-senyum yang tak simetris dengan garis wajah mereka, yang dipasang di tiang-tiang listirik, di batang-batang pohon, memenuhi setiap sudut perempatan dan jalan-jalan kota, merampas ruang publik kita yang semestinya indah itu, ada yang memakai blangkon dan topi len

Esti Nir-Amanah

Esti Nur Fathonah adalah sosok yang mudah bergaul; sederhana, supel dan tidak sombong. Dalam beberapa kesempatan, saya bertemu dan sempat berbincang dengan beliau. Kala itu, kebetulan saya mengikuti proses seleksi yang Esti juga ikuti, dan kebetulan dalam beberapa kali seleksi itu, saya dan Esti sama-sama tak lolos. Baru di proses seleksi paling mutkahir Esti lolos dan ditetapkan menjadi salah satu komisioner KPU Provinsi Lampung. Proses seleksi yang menjadi succes story sekaligus bad story bagi Esti . Saya tak terlalu paham proses seleksi di tahun 2019 yang diikuti oleh Esti dan kawan-kawan, karena saya tak lagi ikut mendaftar. Namun, mengingat sulit dan rumitnya proses seleksi sebelum-sebelumnya --yang menjadi salah satu alasan saya untuk tidak lagi mengikuti proses seleksi tersebut-- memang membuka ruang orang melakukan segala cara untuk bisa lolos, termasuk barangkali meminta bantuan jin agar ingatannya tokcer dan untuk ‘membisiki’ para ‘penentu.’ Rumit dan sulit yan

Olok-olok

Kita sedang berada di era di mana masyarakat begitu menggemari olok-olokan, menggandrungi lontaran penuh seronok, menyukai candaan yang mengeksplotasi fisik. Kita menjadi karib dengan kata kutu kupret, katro, kampungan , cebong dan kampret , dan dengan bangga kita menyebut diri sebagai manusia modern. Barangkali kecenderungan ‘manusia modern’ tersebutlah yang mengilhami Sebastian Stein, produser film kelahiran Jerman yang tinggal di Jepang, untuk menyutradarai film berjudul African Kung Fu Nazis , sebuah film yang dinilai paling absurd, gila dan premis ceritanya bego. Sebastian Stein memang membuat film ini dalam keadaan setengah mabuk, sebagaimana pengakuannya saat diwawancarai vice.com. Mabuk dan membayangkan Afrika, Kung Fu dan Nazi, berkumpul dalam satu cerita. Film! Sebuah ide gila untuk mengolok-olok Hitler yang dianggapnya sebagai seorang komedian, termasuk mengolok-olok siapa pun yang menganggap Hitler secara serius, ditudingnya sebagai memiliki otak tak beres.

Menyoal Seleksi KI

Apa yang aneh dari sebuah hasil proses seleksi yang dinilai sarat kepentingan? Tidak ada! Orang-orang yang tampak terkaget-kaget, biasanya hanya berpura-pura. Toh , sebelumnya mereka juga disibukkan lobi sana, lobi sini. Tak lulus, hanya karena tak beruntung atau kurang kuat backup . Sekali lagi, semua orang membangun jejaring, melakukan lobi, dan itu biasa saja, sebagai ikhtiar. Anggap saja seperti anak-anak ABG yang berjuang untuk menyatakan cintanya, berdiri di depan dua kemungkinan: diterima atau ditolak! Soal kepentingan? Mungkin dan sama saja! Dan, itu nyaris terjadi di hampir semua lembaga publik, baik di pusat maupun di daerah. Bahkan, barangkali tiada kehidupan yang tak berpijak di atas kepentingan. Tentu, mereka yang tak puas lumrah dan wajar saja untuk melakukan protes, saat kepentingannya tak terakomodir. Namun, bukankah protes itu juga bentuk kepentingan dalam wajah yang lian. *** Sehari setelah menjalani fit and propertest , saya sebenarnya telah menerima pes

Internet

Era tanpa batas itu, kini telah memasuki ruang-ruang yang sangat pribadi, hingga ke dalam selimut kita. Sulit dicegah. Internet berhasil menembus tembok-tembok kokoh, rumah-rumah mewah yang di jaga oleh para bodyguard bertubuh kekar, kamar kedap suara. Kita dengan bebas, mengolok-olok sesama sembari boker . Olok-olok yang barangkali sering kita anggap remeh, justru menjadi hal serius di mata netizen lain. Internet menjadi ruang kebebasan, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berekspresi dan memamerkan eksistensi. Internet telah mengubah segala yang kita anggap sebagai urusan privat, bertahun silam, kini menjadi hal yang lazim diumbar ke publik. Apa yang kita makan, pakaian yang kita kenakan, aktivitas keseharian, hingga pertengkaran suami-istri dan masalah-masalah pribadi lainnya. Dinding-dinding media sosial kita dipenuhi oleh coretan-coretan remeh, narsisme hingga kebencian, semacam mural dan sketsa perayaan hal-hal yang banal, tidak penting! Entah tepat ata