Hoax



Malas berpikir dan membaca. Dua hal yang seringkali membuat orang mudah terprovokasi, gampang percaya dengan berita yang tidak jelas sumbernya. Meluangkan waktu beberapa menit untuk berpikir, akan sangat membantu seseorang untuk bisa menimbang logis atau tidak logisnya infomasi yang ia terima. Membaca akan membantu validasi dan verifikasi sebuah berita tidak hanya dari satu sumber.

Kecanggihan teknologi bisa dimanfaatkan untuk melakukan penelusuran kejelasan sumber dan seberapa valid sebuah informasi, tetapi sayangnya kecanggihan teknologi justeru tidak diimbangi kemampuan penggunanya, sehingga tak jarang smartphone melahirkan stupidpeople. We live in the era of smartphone and stupidpeople.

Seminggu yang lalu, saya iseng mengikuti postingan beberapa kawan di twitter, membuat status WhatsApp (WA), "Warning: Virus Corona Bisa Menular Melalui HP Xiaomi". 

Hanya dalam beberapa menit, beberapa nama yang ada di daftar kontak saya, mengirim pesan, "Serius, Kak?", "Beneran, Bang?", dan beberapa pesan lain yang nada pertanyaannya mirip. Sebagai sumber, saya menganggap pesan yang mereka kirim adalah upaya verifikasi. Iseng, saya akhirnya membalas pesan satu per satu. "Emang punga HP Xiaomi?", pertanyaan yang sengaja saya ajukan untuk mengetahui lebih lanjut, apakah mereka memang percaya atau tidak.

Balasan yang semestinya dijawab "punya" itu, ternyata secara antusias dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan nada kekawatiran, "terus gimana?", "harus diapain?", dan seterunya.

Usil saya jawab, "kirim saja ke rumah".

Setelah itu saya merekam beberapa pesan WA tersebut, kemudian saya posting kembali di status (story) WA saya dengan caption, "beberapa contoh orang-orang yang mudah kena virus hoax".

Tanpa bermaksud ngejudge teman-teman, karena status WA tersebut saya buat, memang untuk keisengan dan lucu-lucuan belaka. Namundari kejadian tersebut, setidaknya saya mendapati pelajaran penting bahwa betapa mudahnya mengaduk-aduk emosi orang, mempermainkannya, dan menjadikan mereka bahan lelucon. Tentu saja kala itu, saya merasa sangat bersalah, sehingga berkewajiban untuk secepatnya meyakinkan mereka bahwa itu hoax. Akibatnya, saya harus merelakan diri saya disumpahserapahi, dikampre-kampretkan, gara-gara keisengan itu.

Bayangkan saja, bila itu terjadi pada diri kita, kita menjadi korban keisengan dan lucu-lucuan orang, lantas ikut menyebarkan secara berantai keisengan itu. Pelaku mula keisengan tersebut, mungkin bisa tertawa terpingkal-pingkal sambil koprol-koprol, dan telunjuknya menuding "lihat, alangkah lucu dan oonnya mereka!"

Tak selalu mereka yang menyebar informasi menyesatkan didasari sikap iseng, ada juga mereka yang didasari kepentingan tertentu, motifnya bisa beragam, mulai dari kebencian, fanatisme hingga kepentingan mengeruk keuntungan ekonomi.

Motif kebencian terhadap kelompok lain, biasanya mendorong si penulis (pembuat) sengaja menulis atau membuat content yang berpotensi memprovokasi pembaca untuk ikut membenci kelompok yang dibenci oleh penulis tersebut. Misal, kebencian terhadap Jokowi mendorong mereka menyebarkan isu bahwa Jokowi anak PKI, hal yang sama juga bisa dilakukan oleh pembenci Prabowo. Kebiasaan para pembenci ini adalah dengan memotong-motong berita, mencocok-cocokkan angka, kata atau apa saja sembari ditambahkan kalimat "tak ada yang kebetulan!".

Mutakhir, kebiasaan cocokologi ini mengaitkan tulisan dalam aksara Arab Qorana, Khalaqa, Zamana, Kazaba dengan wabah virus korona di Wuhan China, entah siapa yang memulai mebuat dan menyebarkan, pesan berantai di WA, hingga semua media sosial, facebook, twitter, youtube, dan instagram. Tak perlu diulas panjang lebar, yang percaya itu sudah pasti goblok, tak paham bahasa Arab, alih-alih tata bahasanya, tetapi sok paham makna tulisan tersebut.

Sikap fanatik berlebihan, serupa dengan kebencian di atas juga bisa mendorong orang membuat content menyesatkan dengan cara yang sama, tujuannya jelas mengagulkan dan mengagungkan kelompok sendiri, berharap pembaca memiliki sentimen yang sama.

Motif mengeruk keuntungan ekonmi adalah motif yang paling berbahaya. Kelompok ini biasanya membuat content menyesatkan bukan karena tidak paham itu informasi bohong dan sesat, melainkan sengaja memanfaatkan sentimen kebencian dan fanatisme pembaca. Tujuannya semakin banyak yang membaca dan menyebarkan informasi tersebut, semakin banyak keuntungan yang meraka dapatkan dari jumlah viewer dan klikbait. Ini mrip-mirip dengan acara realityshow di tipi. Content seperti ini bukan sekadar missleading, tetapi juga hasil rekayasa tanpa landasan faktual, tetapi dibuat seolah-olah sebagai rangkaian fakta.

Intinya, berita bohong atau hoax adalah informasi tanpa sumber yang memang 'sengaja' dibuat untuk menyesatkan dan dijual sebagai kebenaran, dengan ragam kepentingan.

Berita palsu ini, sebenarnya bukan fenomena baru. Sejak awal penciptaan manusia, hoax pernah diproduksi oleh iblis ketika mengabarkan kebohongan tentang pohon yang disebutnya khuldi (kekekalan), untuk kekal di surga Adam harus memakan buahnya. Termakan hoax iblis ini, Adam akhirnya melanggar perintah Tuhan.

Cerita yang sama juga pernah dipraktikkan saudara-saudara Yusuf, yang mengabarkan kepada ayah mereka tentang kematian Yusuf dengan membawa pakaian Yusuf yang telah dilumuri darah binatang.

Kisah-kisah tersebut abadi dalam Alquran. Memberikan pelajaran. betapa pentingnya membaca dan melakukan chek and richek (tabayun) sebelum mengunyah mentah-mentah informasi yang disajikan para iblis di media sosial.

Semua orang berpotensi menjadi pembuat dan penyebar hoax, seturut juga semua orang berpotensi menjadi korban hoax. 

Waspadalah, pilihannya ada di diri kita, menjadi smart people dengan berusaha menahan diri dengan meluangkan waktu menimbang dan mempertanyakan informasi yang diterima, benar, logis atau tidak. Ketika ragu, tahanlah jari tidak latah untuk klik dan bagikan. Atau, menjadi stupid people, latah membagikan tanpa membaca, memikirkan dampak dan tak mendayagunakan akal sebagai penyaring.







0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post