Internet



Era tanpa batas itu, kini telah memasuki ruang-ruang yang sangat pribadi, hingga ke dalam selimut kita. Sulit dicegah. Internet berhasil menembus tembok-tembok kokoh, rumah-rumah mewah yang di jaga oleh para bodyguard bertubuh kekar, kamar kedap suara.

Kita dengan bebas, mengolok-olok sesama sembari boker. Olok-olok yang barangkali sering kita anggap remeh, justru menjadi hal serius di mata netizen lain. Internet menjadi ruang kebebasan, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berekspresi dan memamerkan eksistensi.

Internet telah mengubah segala yang kita anggap sebagai urusan privat, bertahun silam, kini menjadi hal yang lazim diumbar ke publik. Apa yang kita makan, pakaian yang kita kenakan, aktivitas keseharian, hingga pertengkaran suami-istri dan masalah-masalah pribadi lainnya.

Dinding-dinding media sosial kita dipenuhi oleh coretan-coretan remeh, narsisme hingga kebencian, semacam mural dan sketsa perayaan hal-hal yang banal, tidak penting!

Entah tepat atau tidak, melakukan selebrasi atas kebebasan berekspresi dan menyatakan eksistensi tersebut, setelah sekian lama kita menjadi manusia yang disekat-sekat. Mendapatkan informasi yang telah disaring oleh elit dan politisi. Kiwari, kebebasan itu hadir, dan setiap orang bisa menyampaikan informasi, melakukan perubahan, memobilisasi dukungan termasuk juga memprovokasi.

Tak ada lagi monopoli informasi oleh media. Internet telah mengubah interaksi masyarakat dengan pemimpinnya. Bahkan, di tahun 2011 masyarakat Mesir berhasil menurunkan Hosni Mubarak yang berkuasa selama 30 tahun, menggunakan media sosial, facebook dan twitter untuk mengorganisasi aktivis dan ‘memaksa’ media internasional memberitakannya.

Ya, tak dapat dimungkiri, ada banyak media massa menjadikan tulisan-tulisan di akun media sosial sebagai sumber berita.

Di Indonesia, tak sedikit aktivis yang memanfaatkan situs change.org yang secara global konon bisa menjangkau lebih dari 100 juta orang di 196 negara, untuk melakukan kritik atau penolakan terhadap kebijakan negara. Fenomena aktivisme daring tersebut bisa menjadi satu dari sekian banyak sisi positif yang bisa diagulkan internet.

Namun, tak sedikit pula kebebasan dan pilihan tanpa batas yang ditawarkan internet, justru membuat kita hidup dalam kebingungan untuk mendefinisikan diri, tentang apa yang penting dan apa yang seharusnya kita tulis dan baca. Laju cepat informasi, membuat banyak orang tak perlu lama berpikir dan berkomentar. Sebuah gejala yang menabalkan sinisme Kroker (1997) dalam Digital Delirium, bahwa "semakin cepat teknologi, semakin lambat manusia berpikir”. Teknologi sukses memproduksi smartphone tetapi di sisi lain, lahir pula stupidpeople.

Akibatnya, media sosial kita menjadi riuh laksana sorak-sorai penonton sepakbola tarkam, yang merasa seperti komentator ulung. Kita pun merasa menjadi ahli segala, berkomentar soal politik, ekonomi, sosial budaya, konstruksi bangunan, virus hingga soal agama, halal-haram dan surga neraka. Tak peduli lagi soal pengetahuan kita yang dangkal dan menyebar ujar kebencian. Internet sukses membuat kita terkotak: pendukung versus pembenci. Fakta itu, bisa kita buktikan saat pemilihan umum presiden, pemilihan gubernur, aksi 212 dan seterusnya.

Internet telah menjelma menjadi teknologi informasi paripurna. Cepat, mudah, dan menawarkan kebebasan. Internet berhasil memamerkan duel sengit antara Neil Postman dan Nicholas Negroponte. Neil Postman mewakili mereka yang teknopobia, meramalkan pesimisme teknologi dalam karya besarnya, Technologi: The Surrunder of Culture to Technology dan Nicholas Negroponte dalam karyanya Being Digital mewakili teknofilia meyakinkan masyarakat bahwa teknologi dampat menciptakan dampak positif.

Kita menaruh harap internet bisa jadi menjadi solusi atas tirani informasi yang seringkali dimonopoli elit. Warga bisa menginformasikan ketidakadilan, ketimpangan pembangunan, banjir yang tak kunjung mendapatkan penanganan, politisi yang suka ngapusi dan ragam kritik yang berdampak positif atas penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan.

Barangkali, kita tak dapat menghindarkan diri dari hal-hal negatif karena teknologi, seperti menguntit gosip artis cantik, mengintip foto dan video seronok, lalu menikmatinya di ruang-ruang privat, tetapi paling tidak, kita masih bisa menahan diri untuk tidak memuncratkan kebencian dan dendam, kebiasaan mendakwa dan berceramah soal cacat moral orang lain, tak memamerkan kebiadaban ke ruang publik. Sebab jika itu terus terjadi, alih-alih kita bisa mengontrol penguasa dari tindak semena-mena, kita akan disibukkan untuk saling serang dan merawat permusuhan sesama kita, sesama orang-orang biasa yang marginal dan tertindas.

Tabik.

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post