Menyoal Seleksi KI


Apa yang aneh dari sebuah hasil proses seleksi yang dinilai sarat kepentingan? Tidak ada! Orang-orang yang tampak terkaget-kaget, biasanya hanya berpura-pura. Toh, sebelumnya mereka juga disibukkan lobi sana, lobi sini. Tak lulus, hanya karena tak beruntung atau kurang kuat backup. Sekali lagi, semua orang membangun jejaring, melakukan lobi, dan itu biasa saja, sebagai ikhtiar. Anggap saja seperti anak-anak ABG yang berjuang untuk menyatakan cintanya, berdiri di depan dua kemungkinan: diterima atau ditolak!

Soal kepentingan? Mungkin dan sama saja! Dan, itu nyaris terjadi di hampir semua lembaga publik, baik di pusat maupun di daerah. Bahkan, barangkali tiada kehidupan yang tak berpijak di atas kepentingan.

Tentu, mereka yang tak puas lumrah dan wajar saja untuk melakukan protes, saat kepentingannya tak terakomodir. Namun, bukankah protes itu juga bentuk kepentingan dalam wajah yang lian.

***

Sehari setelah menjalani fit and propertest, saya sebenarnya telah menerima pesan melalui WhatsApp tentang nama-nama yang dinyatakan lolos menjadi komisioner Komisi Informasi (KI) Provinsi Lampung. Tentu, seperti yang lain, saya juga tak langsung percaya informasi yang dikirim berantai via WhatsApp tersebut.

Jika pun benar dan harus percaya, saya juga tidak akan melakukan protes. Bukan, karena kebetulan saya tidak termasuk kategori wartawan dan perempuan yang disayangkan tidak masuk itu, melainkan karena saya percaya bahwa apa pun hasil dari proses seleksi adalah keputusan terbaik --tentu tanpa harus menafikan ada kepentingan di dalamnya--.

Subyektif? Tentu saja. Ketika setiap orang menilai tentang kepatutan dan kelayakan, dengan standar pertanyaan yang rata-rata peserta mampu menjawab, setiap orang yang menilai --dalam hal ini anggota Komisi I DPRD Provinsi Lampung-- memiliki kebebasan untuk menentukan score berdasarkan perspektif masing-masing, dan itu subyektif. Sebutlah misal pertanyaannya, setelah terpilih untuk mengatasi ragam perbedaan pendapat di antara komisioner yang lain, apa yang harus Anda lakukan?

Jawabannya barangkali bisa beragam, dengan narasi yang berbeda-beda. Menjawab: kembalikan pada peraturan perundang-undangan; samakan persepsi, tafsir dan interpretasi atas pasal-pasal yang dimungkinkan berbeda dipahami; atau barangkali ada yang menjawab, jika tak bisa diselesaikan dengan musyawarah konsultasikan ke KI Pusat atau jika tak bisa musyawarah, lakukan voting; dan ragam jawaban lainnya. Sangat mungkin.

Lantas mana yang keliru? Menurut masing-masing peserta, tentu jawaban mereka tak ada yang keliru. Namun, siapa yang bisa menyana setiap kepala anggota Komisi I DPRD Lampung yang saat itu hadir, memberikan nilai sama benar dengan score yang sama pula.

Begitulah rumitnya. Terlebih rumit lagi, ketika harus mendengarkan keinginan banyak orang padahal yang harus ditetapkan sebagai komisioner terpilih hanya berjumlah lima orang, sedangkan setiap orang dari 15 nama yang masuk tahapan fit and propertest itu, semua memiliki keinginan untuk terpilih.

Soal subyektif, setiap orang memiliki ruang dan peluang yang sama berlaku subyektif, terlebih jika itu menyangkut otonomi individu, bercampur kepentingan pribadi atau kelompok.

Jika mau jujur, sebenarnya mulai soal pemberkasan, tes tulis, psikotest, wawancara dengan panitia seleksi, semua memiliki ruang dan peluang subyektif. Persayaratan berkas, materi tes tulis, psikotest hingga wawancara dan fit and propertest tidak lahir dari ruang hampa nirsubyektivitas, setiap pekerjaan yang melibatkan ilmu pengetahuan dan manusia tak satu pun yang benar-benar mampu melepaskan diri dari subyektifitas. Bukankah ilmu pengetahuan juga tak ada yang benar-benar netral?

Hiruk-pikuk tentang ragam hal, saling tuding dan menggunjing, kegemaran menunjuk hidung orang lain tetapi jarang berkaca dan memperhatikan diri sendiri, menjadi hal-hal lucu yang layak ditertawakan. Sebuah fenomena yang mengingatkan saya pada ayat Tuhan bahwa tiadalah kehidupan dunia ini melainkan permainan dan senda gurau (laib wa lahwun). Meski kecewa karena tak lolos seleksi, tak perlu terpuruk terlalu dalam hingga melupakan tawa, karena sesungguhnya kehidupan ini hanyalah candaan yang harus dijalani dengan riang gembira.

Bagi yang tak puas, tak perlu membangun pesimisme dengan membangun asumsi-asumsi untuk mendelegitimasi keputusan yang telah menjadi ketetapan, terlebih jika alasannya hanya tak mengakomodir kelompok tertentu. Masih ada ruang untuk mengawasi dan memantau kinerja mereka yang terpilih. Berjuanglah terus, karena hidup yang main-main ini, tetap harus dipertaruhkan.

Selamat bekerja bagi kawan-kawan yang terpilih.

Tabik.

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post