Widget HTML Atas

Politisi dan Orang-Orang Gila


Pernah melihat sosok berpakaian compang-camping, dekil dan bau, hilir mudik di pusat kota membawa karung bekas, mengorek-orek sampah, lantas tiba-tiba berdiri tegak di pinggir jalan, dan dengan suara lantang berorasi, persis seperti penceramah berpengalaman, intonasi dan mimiknya ekspresif? Lantas menuding orang-orang lewat sebagai orang gila?

Pernah jugakah berjumpa dengan satu momentum, di mana orang gemar memuji dirinya sendiri, melakukan hal-hal di luar kebiasaannya, makan nasi aking, datang ke tempat-tempat kumuh, pasar dan pelosok-pelosok kampung, naik becak dan berkuda di tengah kota?

Saya ingin tegaskan mereka bukanlah sosok yang sama, meski terkadang susah membedakan perilakunya.

Perhatikanlah, senyum-senyum yang tak simetris dengan garis wajah mereka, yang dipasang di tiang-tiang listirik, di batang-batang pohon, memenuhi setiap sudut perempatan dan jalan-jalan kota, merampas ruang publik kita yang semestinya indah itu, ada yang memakai blangkon dan topi lengkap dengan slogan, yang entah.

Manakah, yang lebih tulus dan alami, sosok yang dekil, bau dan jorok ataukah yang klemis, necis dan narsis?

Acap kali membuat geli dan mengundang tawa, tak jarang pula membuat geram dan marah.

Kita terhibur dengan ragam atraksi yang dipertontonkan, mengatasnamakan kepedulian, keprihatinan dan cinta, mereka melakoni kehidupan layaknya orang miskin, berpakaian sederhana, menebar simpati dan empati, masuk pasar, turun ke selokan membersihkan sampah yang membuat air mampet dan tergenang, memegang cangkul mengaduk semen.

Meski sesaat, patut dikenang sebagai hiburan layaknya aktor yang memerankan tokoh sinetron yang mencintai orang-orang miskin dan marginal di tivi-tivi yang kita tonton menjelang tidur. Setelahnya, matikan tivi dan beranjak tidur, lupakan dan lelaplah dalam mimpi.

Sebagai rakyat yang telah berkali-kali menonton perilaku orang-orang seperti itu, tentulah kita cukup punya ingatan dan kesadaran, bahwa semuanya adalah sandiwara. Janji mereka tentu tak semanis gula dan susu yang disebarkan, kedermawanan tak mungkin diukur dengan selembar dua lembar uang seratusan ribu, detak kepedulian sangat naif jika disamakan dengan entakan musik dangdut dan joget para biduan di panggung yang mereka sebut pesta rakyat. Terlebih, kebajikan dan kemanusiaan tak mungkin kita setarakan dengan puja-puji tim kampanye, rekayasa citra dan kepedulian musiman.

Kita bosan ditipu. Janji-janji telah membuat kita mual, sebal serasa mau muntah. Kita tak memiliki kuasa untuk mencegah mereka. Mereka memiliki modal dan bebas memakai simbol-simbol kejelataan, memborong isu-isu kefakiran termasuk melekatkan pakaian-pakaian relegiusitas untuk menutupi kedok ‘gila kuasa’. Namun, kita tetap memiliki kebebasan memilih dan tidak memilih, kita merdeka untuk tidak ditipu berulang-ulang.

Saya percaya, kita cukup melek untuk bisa melihat orang gila sebagai orang gila. Berbekal ingatan, kewarasan dan kemampuan kita melihat itulah, kita barangkali bisa menitipkan harapan pada mereka yang masih memiliki nurani, sembari merapal doa, agar Tuhan menajamkan penglihatan kita sehingga yang baik terlihat baik, dan kita bisa memilihnya, dan yang gila terlihat gila, buruk terlihat buruk, dan Tuhan melindungi kita dari janji-janji palsu mereka.

Rahmatul Ummah
Rahmatul Ummah Penikmat jagung dan singkong rebus. Menganggap hobi menulis sebagai pekerjaan. Jika tidak darurat, hanya bisa diajak 'ngobrol' di malam hari. Editor serabutan di beberapa penerbit lokal, Pusaka Media, Sai Wawai Publishing dan Aura Publishing.

No comments for "Politisi dan Orang-Orang Gila"