Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2020

Kolaborasi Kebaikan, Menyalakan Kemanusiaan

Salah seorang Relawan 69 membagikan paket sembako pada warga terdampak (Foto: Dok. Relawan 69) D i tengah pandemi global Covid-19, seturut kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial, bekerja, belajar dan beribadah di rumah, ada ratusan bahkan ribuan orang yang terdampak, karyawan yang di PHK dan dirumahkan, pekerja sektor informal yang kehilangan mata pencaharian, hingga para medis yang bertaruh hidup.  Covid-19 sukses mengirimkan kepanikan, hingga tak seorang pun yang tak memiliki rasa was-was saat melihat kardus, keranjang sayur, gagang tempat bergantung di bus kota atau kereta tanpa merasa curiga dan membayangkan bahwa semuanya dipenuhi oleh ‘sesuatu’ yang tak terlihat. Bahkan, terhadap lembaran uang kertas yang kerap menghiasi dompet.  Coronavirus sukses menghempaskan kesadaran kita pada ceruk kemanusiaan, menghidupkan nurani untuk membunyikan harap agar pandemi ini segera berlalu, secara diam-diam setiap orang merapal ‘doa’ dengan cara masing-masing agar ha

Tentang Tiada

Parmenides, filsuf Yunani kuno yang hidup ribuan tahun lalu, punya slogan filosofis yang menyatakan ‘apa pun yang ada itu ada, dan apa yang tidak ada itu tidak mungkin ada’ ( Whatever is is, and what is not cannot be ). Martin Heidegger, filsuf yang hidup seabad yang lalu, dalam  Pengantar Metafisika- nya, alih-alih menerima slogan Parmenides bahwa ‘yang tidak ada itu tidak mungkin ada’, malah mengatakan bahwa pertanyaan mendasar metafisika adalah ‘Mengapa yang ada itu adalah ada ( beings ) dan bukan tiada ( nothing )?’. Dengan kata lain, ‘Mengapa tiada itu tidak ada?’. Pertanyaan ini tetap menjadi misteri yang sulit dipecahkan. Esai pendek ini mengulas bagaimana tiada, yang jarang diperhatikan dalam filsafat, justru menjadi persoalan rumit yang membingungkan. Selamat membaca! *** Di dalam filsafat, hal yang selalu ditekankan adalah apa yang ada. Kita menyebut ini  ontologi , yang berarti kajian tentang ada. Apa yang kurang dikaji adalah apa yang  tidak  ada. Dapat di

Definisi

Pengantar Banyak kekeliruan memahami pokok persoalan, karena salah ‘mengerti’, salah memberikan ‘makna’ atau salah mendefinisikan. Maka, untuk masuk dalam pembahasan Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI sangat penting untuk mengetahui tentang definisi, bagaimana kaidah menetapkan definisi. (Saya juga pernah menulis tentang takrif di sini ) Berikut ini adalah tulisan Azis Anwar yang menurut saya cukup detail membahas tentang definisi. ----- Dari sejak zaman Aristoteles, Ibn Sina, al-Ghazali,  as-Sullam al-Munawraq , hingga  Madilog -nya Tan Malaka, ilmu logika/mantiq menyatakan bahwa definisi yang sempurna ( hadd tamm ) disusun oleh genus terdekat ( jins qarib ) plus differentia ( fashl ) yang membentuk esensi dari X (yang membuat X adalah X). Bila definisi itu disusun dengan genus jauh ( jins ba’id ), definisi itu kurang sempurna ( hadd naqish ). Bila definisi memakai sifat/aksiden (‘ ardh ), baik umum maupun khusus, dan bukan dengan differentia, maka ia disebut des