Skip to main content

Kolaborasi Kebaikan, Menyalakan Kemanusiaan

Salah seorang Relawan 69 membagikan paket sembako pada warga terdampak (Foto: Dok. Relawan 69)


Di tengah pandemi global Covid-19, seturut kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial, bekerja, belajar dan beribadah di rumah, ada ratusan bahkan ribuan orang yang terdampak, karyawan yang di PHK dan dirumahkan, pekerja sektor informal yang kehilangan mata pencaharian, hingga para medis yang bertaruh hidup. 

Covid-19 sukses mengirimkan kepanikan, hingga tak seorang pun yang tak memiliki rasa was-was saat melihat kardus, keranjang sayur, gagang tempat bergantung di bus kota atau kereta tanpa merasa curiga dan membayangkan bahwa semuanya dipenuhi oleh ‘sesuatu’ yang tak terlihat. Bahkan, terhadap lembaran uang kertas yang kerap menghiasi dompet. 

Coronavirus sukses menghempaskan kesadaran kita pada ceruk kemanusiaan, menghidupkan nurani untuk membunyikan harap agar pandemi ini segera berlalu, secara diam-diam setiap orang merapal ‘doa’ dengan cara masing-masing agar hadir keajaiban.

Nyaring suara burung di tengah-tengah kota, langit cerah yang mendadak sunyi dari polusi memberi pelajaran betapa pentingnya jeda, untuk melihat segalanya lebih jelas. Terhadap orang asing atau karib kerabat yang baru saja pulang dari luar kota, melahirkan sikap yang sama: kekhawatiran! 

Covid-19 ini menyadarkan bahwa semesta ini saling terhubung, tak ada yang berjalan sendiri-sendiri. 

Meminta para pekerja harian lepas yang memungut rezekinya di jalanan dan di tempat-tempat umum, seperti pedagang sayur, tukang becak, sopir, buruh, karyawan, wartawan dan pekerjaan serupa lainya, berarti menuntut kepedulian terhadap kelangsungan hidup mereka ketika harus berhenti bekerja. 

Semua saling terkait, semua harus bekerja sama. 

Kita tak mungkin berlaku egois dan individualis, di saat orang lain kita tuntut untuk tidak egois. Semua orang bicara tentang keberlangsungan hidup. Mereka yang bekerja di sektor informal berpikir tentang keberlangsungan hidup keluarganya, sedangkan pekerjaan mereka tidak tersedia di rumah. 

Kiwari, dunia menuntut dan membutuhkan lebih dari sekadar simpati. Musibah Covid-19 menuntut kebaikan berbagi, kepekaan, kepedulian dan kebersamaan. Kebaikan yang akan menulari segenap kemanusiaan, memengaruhi perilaku dan pemikiran manusia lain. Meyebarkan kebaikan yang mampu menyalakan api kemanusian dan menghadang laju penyebaran virus. 

Semua orang dituntut untuk menciptakan ruang gema kebaikan, yang menulari setiap pribadi dan memantulkan gema yang sama: peduli sesama, saling menjaga dan memberi imun. 

Siapa yang hendak menuntaskan kesenangan dan menggelar pesta tanpa khawatir risiko? Tetap keukeh berkerumun di ruang publik tanpa rasa takut? Ragam solidaritas terbangun dari kota hingga desa, anak-anak hingga orang dewasa. Tak lagi ada pembatas-pembatas atas nama suku, ras dan agama. Ada petani yang mengumpulkan 250 ton beras untuk membantu sesama, ada anak kecil yang rela membobol celengan, ada penulis yang menulis buku lalu mendonasikan semua hasil penjualan bukunya. Mereka bersatu, bergotong royong untuk turun tangan. 

Saya merasa beruntung, dikelilingi oleh orang-orang yang tak pernah henti menginspirasi untuk berbagi, tak kenal lelah menggalang donasi, mengetuk nurani untuk peduli. Sejak gempa Lombok, tsunami di Palu, Banten dan Lampung, hingga pandemi ini, mereka tak pernah absen untuk kembali. 

Relawan 69 begitu mereka menyebut wadah tempat berhimpun itu, diacu pada tanggal dan bulan, 6 September (bulan ke-9) dua tahun yang lalu. 

Relawan 69 merupakan komunitas yang diinisiasi dan diisi oleh banyak orang dengan latar belakang profesi yang beragam, ada jaksa, hakim, pengacara, akademisi, dokter hingga rakyat biasa. Mereka pun tinggal di daerah yang berbeda-beda, komunikasi dan konsolidasi dilakukan dengan mengandalkan grup WhatsApp. Satu hal yang mengajarkan, bahwa kolaborasi kebaikan tak mengenal jarak, tak dibatasi ruang dan waktu, selama ada kemauan terbentang seribu cara dan jalan. 

Saat pandemi Covid-19 ini, mereka telah berhasil mendistribusikan ribuan masker, handsanitizer, cairan disinfektan, alat pelindung diri (APD) hingga paket sembako ke lebih 15 kota di Indonesia. Relawan 69 biasanya akan berkolaborasi dengan komunitas atau relawan di masing-masing daerah tujuan bantuan untuk memperluas jangkauan. 

Selain menggalang donasi dari para anggota dan jejaringnya, di masa pandemi ini Relawan 69 juga telah menerbitkan sedikitnya empat buku yang dijadikan media penggalangan dana, Catatan di Balik Toga Merah karya DY. Witanto, Hakim Yustisial di Mahkamah Agung, yang awalnya diniatkan untuk menggalang donasi beasiswa untuk anak-anak hakim yang orang tuanya menjadi korban bencana/musibah saat menjalankan tugas. Buku dicetak sebelum wabah Covid-19 diumumkan jadi bencana nasional di Indonesia, kemudian dicetak ulang dan sebagian penjualannya dialokasikan untuk membantu warga yang terdampak Covid-19. 

Berikutnya adalah buku Yang Berserak di 13 Tahun Mengadili yang ditulis oleh Guntoro Eka Sekti, buku ini merupakan tulisan-tulisan reflektif Eka Sekti selama menjadi hakim. Disusul kemudian oleh buku Mengikat Makna karya Guse Prayudi dan buku kumpulan tulisan dari sekitar 20 penulis, Corona Guru Kita: Belajar Berempati, ketiganya diterbitkan dalam bentuk e-book dan diikhtiarkan untuk penggalangan donasi. 

Catatan penting dari gerakan yang diupayakan oleh Relawan 69 adalah menolak berdiam diri sembari memeluk lutut di tengah musibah yang menuntut kepedulian. Di balik keterbatasan yang mereka miliki, mereka berpikir dan ambil bagian terlibat dalam upaya penyelesaian masalah yang telah ditetapkan sebagai musibah global ini. 

“Tak melulu hanya mengandalkan pemerintah, masyarakat juga harus kuat,” jelas Fathoni, dosen Fakultas Hukum Unila yang menjadi salah satu kontributor buku 'Corona Guru Kita: Belajar Berempati' saat memoderatori diskusi daring, Jumat (25/4/2020) lalu.

Gerakan Relawan 69 menggugat rasa kemanusiaan yang telah lama lumpuh karena tak pernah digerakkan, menakbirkan kembali titah Tuhan untuk berbagi di kala sempit dan lapang, Kebaikan tak boleh ditunda, tak sekadar diwacanakan tetapi dikerjakan. 


Memang ada beberapa manusia yang terlalu sibuk merutuki kegelapan, sehingga ia lupa untuk menyalakan lilin. Sibuk dengan pencapaian pribadi, mengejar dunia yang tak kunjung memberi kepuasan dan kebahagiaan. 

Nyatanya, berbagi dan melihat orang lain bahagia, melihat tatapan penuh harap mereka justeru menyentuh rongga kepuasan batin. Perasaan bahagia yang tidak bisa diukur dengan materi. Perasaan berguna bagi orang lain yang kesulitan lebih memuaskan dahaga batin melampaui apa pun, buah dari kebaikan berbagi

Relawan 69, satu komunitas dari banyak komunitas orang baik di negeri ini, yang berhasil membuktikan bahwa kolaborasi kebaikan, bergotong royong saling meringankan beban, keterbatasan tidaklah menjadi alasan untuk tidak melakukan satu pun kebaikan, karena memang semua telah memiliki porsinya masing-masing. Mereka yang punya materi berlebih dan tak memiliki waktu luang, posisinya akan diisi oleh mereka yang punya alokasi waktu lebih banyak di lapangan. Berbagi peran, sekaligus berbagi ruang untuk sama-sama berbuat baik. 

Menutup tulisan ini, saya hendak mengutip ujaran bijak tentang kebajikan, “ada banyak manusia merasa saat mengeluarkan zakat atau sedekah mendaku telah bermurah hati dan merasa menjadi dermawan, padahal yang ia keluarkan sesungguhnya adalah hak orang lain yang sudah semestinya dikeluarkan, untuk membersihkan hartanya.” 

Zakat adalah kewajiban, sempurnakan dengan memberi lebih dari apa-apa yang dicintai. 

Firman Allah SWT: 

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Qs. Ali Imran: 92). 

Wallahu a’lam bisshowab.



*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa


Comments

Popular posts from this blog

Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh". Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh . Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom. Sedangkan Lampah Lumpuh , adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye

Perempuan Senja

Kehadiran Gadis itu begitu misterius. Ia tiba-tiba muncul di bibir pantai. Duduk mematung, memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Tak satupun yang paham darimana ia berasal dan di mana ia menetap. Ia akan muncul ketika matahari tinggal sepenggalah, menatap ke ufuk Barat hingga matahari merayap lenyap ditelan gelap.

Maaf, E-Book Akan Dihapus?

Saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang setia mengunjungi blog ini untuk mencari bahan bacaan berupa PDF, jika sejak tulisan ini diposting saya tidak akan lagi mengunggah buku-buku PDF di blog. Silahkan jika ada yang membutuhkan langsung berkirim email ke omahseribusatu@gmail.com. Ada banyak alasan, tentu yang utama adalah sebagai ikhtiar menghindari gunjingan. Saya sebenarnya punya segudang pembenaran, tetapi saya pun menyadari pembenaran bukan kebenaran. Saya sedih saat kawan-kawan saya dipelosok yang memiliki semangat membaca tinggi, tetapi minim bahan bacaan seperti buku. Dulu, saya masih bertahan dituding melakukan aktivitas ilegal dan haram karena menyebarkan buku-buku pdf tanpa seizin penerbit dan penulisnya, saya membela diri dengan alasan lebih terkutuk saya yang membiarkan mereka tak membaca, sedang untuk mengirimkan mereka bahan bacaan, untuk 10 eksemplar buku saja saya sudah cukup 'ngos-ngosoan' membayar ongkos kirimnya. Saya mengakui bahwa saya memang belum